"GLE SABE" POTRET MASA LALU MATANGGLUMPANGDUA YANG TERSISA

(Bireuen, 02-03-2017). Kalau anda warga kota Matangglumpangdua, atau anda pernah berkunjung ke kota Matangglumpangdua ada satu hal yang unik apabila anda menilik sebuah bukit yang sangat rimbun di pojok barat kota Matang, itulah bukit "Gle Sabe" yang akan redaksi kupas pada rubrik kali ini. Bukit Gle Sabe ini merupakan potret wujud kota Matangglumpangdua yang masih tersisa pada saat ini. Pernahkah anda bayangkan kalau kota Matang yang kini merupakan kota nomor dua di kabupaten Bireuen yang begitu padat dan tumbuh subur dengan bangunan-bangunan pertokoan, beberapa abad yang lalu merupakan hutan belantara yang ditumbuhi banyak pepohonan yang menjulang tinggi layaknya lokasi "Gle Sabe" saat ini. Masa itu sebelum penjajahan Belanda dan masih masa pemerintahan kesultanan Aceh sekitar abad 17-19 M, kota Matang masih berupa hutan yang rimbun. Disamping banyak sekali ditumbuhi pepohonan yang besar, dibawahnya juga dipenuhi ribuan kuburan manusia meskipun sekarang sudah berobah menjadi lokasi pasar dan pertokoan serta warung-warung. Berdasarkan penuturan-penuturan orang-orang tua yang redaksi kumpulakan, asal usul penamaan Matangglumpangdua dikarenakan pada lokasi itu ditumbuhi tiga batang pohon yang sangat besar diantara ratusan pohon-pohon yang ada saat itu. Tiga pohon yang paling besar tersebut yaitu satu batang pohon "Matang" dan disampingnya tumbuh dua batang pohon "Glumpang", dan dibawah ketiga pohon itu orang-orang memanfaatkannya kala itu sebagai tempat berteduh dan transit untuk beristirahat yang kemudian mulailah orang-orang disini menggelar lapak dangangan secara tradisional. Sedangkan lokasi pasar dagangan yang paling maju saat itu sebagai bandar laut berada di pesisir laut jangka sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, lokasi transit yang terdapat tiga pohon yang paling besar itu (satu pohon "Matang" dan dua pohon "Glumpang"..red) semakin hari semakin terkenal saja, sehingga orang-orang menamai tempat itu "Matangglumpangdua", yang kemudian menjadi asal usul nama kota itu sampai dengan saat ini.
Dari hasil amatan redaksi Tutur, kini kota Matangglumpangdua semakin maju dan berkembang, banyak sarana pendidikan seperti kampus Universitas Almuslim Peusangan, pasar, warung, pertokoan bahkan mini market semakin membuat kota Matang telah mampu bertranformasi dari pasar tradisional kepada pasar moderen saat ini. Kemampuan berevolusi kota ini tidak terlepas dari tingkat pendidikan dan peradaban masyarakat disini. Kini kota Matang banyak mendapat julukan. Dari kota Mawar yang dulu terkenal dengan sirup cap mawarnya, kota buah, maupun kota sate karena terkenal dengan kuriner Sate matang yang memiliki citarasa lezat bagi peminat dan pemburu kuriner di negeri ini. Kota Matangglumpangdua juga telah mengorbit tokoh-tokoh terkenal pada masa lalu seangkatan Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap, Ampon Chiek Peusangan T. Jouhan Alamsyah sampai kepada tokoh sekaliber M.A Jangka. Semoga dimasa yang akan datang kota ini akan dapat mengorbitkan kembali tokoh-tokoh muda yang lain menggantikan Tgk. Di Gle Sabe dan mereka-mereka yang telah membawa visioner di kota ini. Semoga..!

Gle Sabe

Apa itu Gle Sabe...?
"Gle Sabe" merupakan sebuah bukit disudut kota Matangglumpangdua, Peusangan yang masih asri ditumbuhi pepohonan sebagai paru-paru kota Matang saat ini. Bukit ini diyakini wujud bagian kota Matangglumpangdua tempo doloe yang masih tersisa sebagai bukti sejarah. Diatas bukit "Gle Sabe" juga terdapat makam Tgk. Di Gle sebagai tokoh pada masa itu ditemani ribuan makam-makam yang lain baik dari kalangan orang-orang baik maupun orang-orang jahat tebaring kaku membisu di bukit itu.
Menurut riwayat tutur masa lalu disebut Gle (bukit) dan Sabe (seukuran), karena pada zaman dahulu kala pada bukit itu adalah tanah sawah yang lebik kurang luasnya satu hektar. Konon tanah itu telah diwakafkan pada jalan agama. Namun kemudian, ketika pewakafnya meninggal, tanah itu digugat oleh ahli waris. Atas kehendak Allah terjadilah bencana dahsyat berupa gempa, banjir, kilat dan hujan lebat. Tanah sawah yang sudah siap ditanami padi itu, keesokan harinya sudah berubah menjadi sebuah bukit, dan bukit itu sabe (seukuran...red) dengan lahan sawah yang disengketakan itu. Karena riwayat Tutur masa lampoe itulah sampai sekarang bukit itu dikenal dengan nama "Gle Sabe".
Semoga bermanfaat bagi admin sekalian. By Redaksiana @ TUTUR KEUNARANG.
Anda juga dapat mengakses di http://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 bersama koresponden Tutur Armia Arhan.

Subscribe to receive free email updates: