KEONG MAS DI BLANG GEULEUNTA

(Edisi Cerpen). Sebersit kisah duapuluhlima tahun yang lalu, ketika "musem seumula" di sawah kampung kami. Diantara rombongan wanita setengah baya buruh tani sedang sibuk menancapkan bibit-bibit padi di tanah Santewan Blang Geuleunta. Nampak walamah wajahnya begitu sumringah menyeloteh Kak Ni yang sedang mengumpulkan siput-siput Abo hitam dalam plastik "kreh-kroh" untuk dibawa pulang. "Rencana mau ku rendang, lagian tak ada ikan buat makan siang" ujar Kak Ni, diantara teman-temannya, Wa Banun, Kak Mari, dan beberapa yang lainnya.
Langsung saja Walamah dengan bangga menceritakan tentang siput baru yang sudah ia pelihara di pasu kolam rumahnya yang sebulan lalu dia ambil ditempat ponakanya dari Panton Labu. "Di pasu kolam rumahku ada siput baru, keong Mas, cantik sekali, tidak jelek sehitam siput-siput abo ini" ujar Walamah yang membuat kak Ni, Wa Banun, dan kak Mari begitu tertarik mendengar cerita Walamah tentang siput keong Mas yang menggiurkan di rumahnya itu. "Kalau sudah banyak kasihlah buat kami Wak !" minta kak Ni, yang tertarik untuk memiliki keong Mas untuk di pelihara seperti Walamah. "Kenapa tidak kerumah, kemaren saja sudah kubuang kesaluran irigasi depan rumahku" cetus Walamah, "semoga nanti bisa banyak hidup di sawah-sawah kita ini, itu aku yang bawa pulang" ujar Walamah sambil tersenyum tipis. Kak Ni, Wa Banun, Kak Mari, dan wanita petani penanam padi lainnya yang umumnya masyarakat miskin sangat mengharapkan dengan kehadiran keong-keong Mas yang di Bawa pulang bibitnya oleh Walamah dapat cepat hidup di tanah Santewan Blang Geuleunta, kadang dapat membawa keberkahan secerah kilauan emas menggantikan siput-siput Abo hitam di sawah mereka. Seiring semilir angin Gle Pucok yang membelai daun-daunan di tepi bentangan sawah dikaki Gle Kubu Raya, secepat itu pula isu tentang keong Mas yang mengagumkan itu sudah ada bibitnya di sawah desa kami Blang Geuleunta, dan Walamahlah tokoh pembawa bibitnya dari tempat ponakannya di Panton Labu sana.



---oo0oo---
Namun setahun kemudian, harapan Kak Ni, Wa Banun, Asma, kak Mari ternyata tuhan mengabulkannya. Setiap petak sawah Blang Geuleuta telah di penuhi keong-keong Mas yang ternyata bukan membuat orang-orang dikampung kami kaya, melainkan menjadi bala. Semua tanaman padi habis di servanya, dan siput-siput Abo hitampun diperkosa untuk dipaksa melahirkan keturunan keong kuning durja itu. Kini tak ada lagi siput-siput Abo hitam yang biasa dijadikan rendangan oleh kak Ni dulunya. Walamah pun panen cerca, kebanggaan ceritanya dulu di "Musem seumula" telah mengundang petaka bagi seluruh warga Blang Geuleunta, yang mengangap Walamalah yang membawa petaka kesawah-sawah kami. Walamah sampai dikucilkan dalam masyarakat, sehingga acara pesta dan duka dirumahnya kurang dipedulikan, meskipun keong-keong itu datang sendirinya dengan cara-cara penyebaran melalui jalan lain. Kini, Walamah telah tiada, semoga Tuhan mengampuni segala dausa dan kekhilafannya.. Amin.
By Redaksiana @TUTUR KEUNARANG
Dapat juga anda akses di http://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 Bersama koresponden redaksi Armia Arhan.

Subscribe to receive free email updates: