(Opini 06-03-2017). Taukah anda dari manakah istilah "Peusangan" itu bermula, yang sampai sekarang sudah menjadi nama salah satu kecamatan di kabupaten Bireuen. Berikut riwayat tutur yang redaksi kumpulkan dari berbagai sumber masa lalu.
Riwayat penamaan Peusangan (Peusak Ngon..red) tidak terlepas dari penamaan Bireuen (Bi Ruweueng..red) yang muncul suatu ketika pada saat infasi pasukan kerajaan Aceh Darussalam tempo dulu. Ada dua pendapat tentang raja yang melakukan pagelaran pasukan bergajah kala itu. Pendapat yang pertama, kedua istilah itu muncul pada saat Ali Riayatshah Al Qahar melakukan perjalanan pagelaran pasukan perang untuk menaklukkan kerajaan Delitua untuk merebut Putri hijau akhir abad ke 15 Masehi. Pendapat yang kedua, saat sultan Iskandar Muda melakukan infasi militer memerangi raja Siujud untuk menaklukkan kerajaan Johor dan negeri Sembilan dalam drama perebutan Putroe Pahang abad ke 17 Masehi. Terlepas dari kedua pendapat itu, yang jelas istilah "Bireuen" dan "Peusangan" muncul ketika Sultan Aceh melakukan suatu infasi. Dalam melakukan operasi militer itu, sultan Aceh memerintahkan agar setiap daerah memberikan sejumlah pemuda untuk ikut bertempur memperkuat serdadu kerajaan Aceh. Setelah mendapatkan sejumlah pemuda untuk prajurit tambahan, sampailah sang raja bermalam di sebuah pantai dipinggir laut di daerah Jeumpa yang kemudian dikenal dengan Kuala raja sekarang. Keesokan harinya sultan Aceh melanjutkan perjalanan bersama rombongan militernya, dan alangkah kecewanya Sultan ketika sampai di Bireuen sekarang ternyata tidak seorang pemudapun yang raja dapatkan disana. Tapi rombongan sultan disambut ribuan orang dari kalangan anak-anak, perempuan dan orang tua yang membuat sesak dipinggir jalan. Mereka memberikan bantuan logistik berupa uang, beras, gula, sayur dan sebagainya kepada rombongan raja yang akan berperang. Banyak pemuda Bireuen yang terkesan menghindar untuk berperang dan memilih pergi ke dayah-dayah untuk menuntut ilmu pengetahuan kala itu. Kemarahan sultan Aceh akhirnya terobati karena ribuan masyarakat Bireuen yang membuat jalan sesak memberi berbagai sumbangan dan semangat melebihi segala-galanya. Karena jalan yang akan dilewati begitu sesak maka berteriaklah para pemimpin pasukan, "Bi ruweung- Bi ruweueng..."! (beri ruang red..), maksud mereka untuk meminta jalan melanjutkan perjalanan. Karena teriakan "Bi ruweueng" (beri ruang) itulah sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama Bireuen sampai dengan sekarang.
Maka sampailah sultan di daerah Peusangan sekarang. Mereka berhenti pada sebuah pantai. Lagi-lagi raja sangat kecewa, karena disinipun tidak ia temukan pemuda-pemuda yang diharapkan untuk ikut berperang. Semua pemuda daerah ini terkesan menghindar bergabung untuk berperang mereka semua sudah pergi kedayah-dayah seperti Awe Geutah dan Samalanga saat itu. Namun di pantai itu sultan Aceh berjumpa dengan sejumlah orang yang telah mempersiapkan puluhan ekor gajah dan diberikan kepada sultan saat itu sebagai kendaraan perang tambahan. Gajah-gajah jinak yang sudah dilatih yang diberikan orang-orang Peusangan membuat Sultan begitu senang menghilangkan rasa marahnya seketika bagai membalikkan telapak tangan. Raja yang sudah senang karena mendapatkan sumbangan gajah-gajah dari orang Peusangan akhirnya tidak mempersoalkan lagi tentang pemuda-pemuda yang absen berperang saat itu. Namun tidak demikian dengan pasukan sultan yang begitu marah dan sebel atas sikap orang Peusangan yang terkesan menghindar ikut berperang bersama mereka. Merekapun mengeluarkan olok-olokan "awak kah peusak ngon, awak kah peusak ngon !". Kata-kata itu terus keluar mencerca disepanjang jalan, karena kata-kata itulah sehingga daerah itu dinamai Peusak Ngon (Peusangan red..) sampai dengan sekarang. Dan tempat orang menyerahkan puluhan gajah di sebuah pantai sebagai ganti para pemuda yang tidak ikut berperang dikenal dengan pante Gajah yang berada di sebelah timur kota Matangglumpangdua sekarang.
FILOSOFI MASYARAKAT PEUSANGAN
Peusangan yang berasal dari kata "Peusak Ngon" mendesak kawan atau membiarkan kawan berperang sementara mereka terkesan menghindar, dan memilik tempat untuk menuntut ilmu menunjukkan suatu komoditas masyarakat yang cerdas. Karena orang cerdas pasti takut berisiko apalagi mati. Karakter inipun tidak membuat orang-orang Peusangan begitu piawai merespon suatu kondisi. Mereka jarang berada pada posisi garis depan pada saat perang, paling-paling menjadi juru taktik dan ahli propaganda. Namun ketika sudah berhasil orang-orang ini lazim muncul kepermukaan sebagai senior representatif bahkan pemimpin sekalipun.
Sisi negatif orang Peusangan, mereka membiarkan teman berjuang digaris depan (peusak ngon) untuk menghindari resiko, karena kecerdasan membuat orang ini penuh pertimbangan dan karena banyak pertimbangan melahirkan ketakutan.
Sedangkan sisi positifnya orang Peusangan juga memberi kesempatan kepada orang lain (peusak Ngon) untuk tampil di depan berkarier dan menjadi pemimpin di daerah peusangan sekalipun, sehingga daerah ini cepat maju baik dalam pembangunan maupun pendidikan. Sisi positif memberi ruang kepada orang lain atau tamu ini juga bagian dari semangat orang Bireuen (bi ruweung) memberi ruang kepada orang lain untuk berjalan.. Sekian, bagaimana komentar anda... !
Pastikan selalu bersama kami @TUTUR KEUNARANG atau bagi anda yang baru bergabung dapat mengakses dihttp://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 bersama koresponden redaksi Armia Arhan.


