(Bireuen 10-03-2017). Kali ini redaksi mengajak pemirsa Tutur sekalian untuk bertandang ke kediaman salah seorang pejuang angkatan 45 yang masih tersisa. Namanya M. Nur Harun, yang akrab di sapa "Nunu" ini, kini sudah berusia senja. Namun masih nampak sehat dengan kondisi postur yang sangat alami saat redaksi mengajak untuk berbincang-bincang mengenai sejarah hidup dimasa penjajahan Jepang dan pasca kemerdekaan setelah tahun 1945 dulu. Lelaki berpostur kurus kering itu merupakan salah satu saksi hidup dan sempat merasakan pahit getir kehidupan dimasa penjajahan Jepang yang kini menetap di desa Kapa kec, Peusangan Bireuen ini. Hasil wawancara dengan "Nunu" redaksi telah mendapatkan begitu banyak cerita tentang kepedihan dimasa penjajah Jepang, seperti kisah kebrutan penjajahan Jepang, kerja paksa untuk membuat lapangan terbang pangkalan Militer mereka di Geulanggan Labu, kisah peperangan krueng Panjoe, sampai kepada makanan Kuriner yang sangat disukai penjajah Jepang kala itu. Meskipun "Nunu", pada saat perang di kawasan Krueng Panjoe masih kanak-kanak, tapi ia sempat mendengar bisingan- bisingan peluru di saat insiden perang saat itu, sehingga ia dipaksakan oleh orangtuanya untuk memasuki lobang dalam tanah yang disebut "kurok-rok" (bungker red..). "kamoe bandum lop lam Kurok-rok" (kami semua harus masuk dalam bungker..), kenang pria ringkih itu dengan wajah hampa. "Penjajah Jepang lebih kejam dari Belanda, ayah saya dulu sering dipukul saat dijadikan kamaruak (tukang masak..red) dimarkas mereka di Geulanggan Labu Peusangan Selatan" cerita Nunu pada redaksi. Disamping itu Nunu juga menjelaskan kalau masakan kuriner yang paling disukai pasukan Jepang masakan yang terbuat dari "sipot Bui" (bakicot..red) yang siput itu mereka bawa dari negerinya. Ayah Nunu merukan tukang Masak yang tiap hari dipaksa memesak daging Bakicot oleh mereka. Karena sering mendapat perlakuan kasar orang tuanya yang menjadi juru masak pasukan Hei Ho sempat kesal sehingga mencampurkan "Ek Leumo" (taik lembu..red) dalam kuwah bakicot mereka itu.
Di sisi lain Nunu juga menceritakan Kalau pasukan Jepang lebih elit gaya bertempurnya dibandingkan pasukan Belanda. "Pasukan Jepang bertempur sambil tiarap dan Merangkak" kata Nunu, "kalau Belanda, menembak sambil berbaris, sehingga banyak yang tewas dan mereka kalah" tutur Nunu pada redaksi.
Pasukan Jepang juga membentuk barisan muda Hei Ho yang direkrut dari pemuda pribumi untuk dilatih militer sebagai pendukung pasukan mereka. Ketika Jepang pulang kenegerinya dan indonesia merdeka, mantan pasukan Hei Ho inilah yang terdiri dari pemuda pribumi yang dilatih oleh Jepang menjadi pelatih TKR (Tentra Keamanan Rakyat) sebagai cikal bakal TNI sekarang. Sehingga TNI juga berperang dengan gaya Tiarab dan jago merangkak, jelas Nunu yang kini sudah berusia senja.
Nunu merupakan salah satu saksi hidup yang sempat merasakan pahit getir masa penjajahan, bapak tua ini juga terlibat langsung sebagai anggota TKR setelah negeri ini merdeka. Akan tetapi Nunu tetaplah Nunu, yang kini hanya merajut asa, dan berada dalam perjuangan melawan penjajahan kemiskinan. Dia merupakan bagian dari angkatan 45 yang luput dari perhatian, semoga keikhlasannya menjadi amal bakti bagi negeri ini. Dan mungkin juga masih ada Nunu yang lain yang bernasib sama, sebagai pejuang yang tak dikenal...
Bagaimana komentar anda...!
Pastikan anda selalu bersama...untuk mendapatkan berita-berita selengkapnya anda dapat mengakses di..... Bersama koresponden redaksi Armia Arhan.


