BAK SIAMPONG-AMPONG" DARI PESANGGRAHAN MENYEBAR LIAR JADI GULMA

(Edisi Serba-serbi). Pernahkan anda berpikir dari mana "Bak Siampong-ampong" (Enceng gondok..red) itu berasal. Berdasarkan data yang redaksi Tutur dapatkan bahwa "Bak Siampong-ampong) alias Enceng gondok (Eichhurnia Crassipes) berasal dari Brazil yang didatangkan masa pemerintahan kolonial Belanda ke kebun raya Bogor sekitar tahun 1894 sebagai tanaman hias para bangsawan. Masyarakat Aceh menamai tumbuhan ini "Bak Siampong-ampong karena sifatnya yang mengapung di atas air. Berdasarkan tutur masa lalu, tumbuhan "Bak Siampong-ampong" ini dulunya merupakan tanaman hias pada rumah pesanggrahan para Ampon atau hulu balang pada masa pemerintahan Belanda. Tanaman Enceng gondok ini menghiasi kolam-kolam yang ada pada kantor pemerentahan Belanda dan rumah-rumah para demang saat itu. Mereka sangat menjaga tanaman ini untuk tidak diambil dan ditanam di kolam-kolam rumah masyarakat biasa.
Nah..!, jika ada para pembantu yang bekerja di pesanggrahan berani berkhianat menyelundupkan tanaman ini pada masyarakat jelata, maka sangsinya akan dipecat, juga tak tanggung-tanggung baik penyelundup maupun orang yang menanam di rumah bila ketahuan akan dihukum dan enceng gondoknya akan disita, luar biasakan...!
Seiring dengan waktu berjalan, Enceng gondok merupakan tanaman yang cukup cepat perkembangannya baik secara genaratif maupun vegetatif. Hal inilah yang membuat para pekerja perawat halaman dan taman kolam di rumah para Ampon atau demang kala itu akhirnya kewalahan juga untuk memusnahkan tanaman ini. Sehingga sebagian saat itu dibuang saja ke perairan-perairan seperti kali, payau maupun rawa-rawa.
Itulah gambaran asal-usul Enceng gondok yang dulunya sangat mulia, tapi kini sudah menjadi gondok sebagai gulma yang memenuhi saluran kali, payau maupun rawa-rawa. Tumbuhan dengan warna bunga ungu ini dapat berkembang cepat dua kali lipat dalam waktu 7-10 hari. Satu batang Enceng gondok dalam waktu 52 hari mampu berkembang seluas 1 Meter persegi. Bayangkan saja.. Maka dalam waktu 1 tahun, akan mampu menutupi area seluas 7 meter persegi, luar biasa...kan !
Heyne (1987), Enceng gondok pada area 1 hektar dapat mencapai bobot basah seberat 125 ton, dan dalam 1 hektar dapat berkembang sebanyak 500 kg perhari. Sungguh fantastis ya...!
Sampai saat ini, Enceng Gondok telah berusaha diolah sebagai bahan baku sovenir  kerajinan tangan seperti produk tas, kotak hias, tempat pakaian, lapisan kursi, bantalan sofa, hiasan dinding dan sebagainya.




Itulah info serba-serbi edisi kali ini tentang asal-muasal "Bak Siampong-ampong" versi riwayat Tutur keunarang, semoga bermanfaat..!
Anda masih bersama @TUTUR KEUNARANG atau untuk memperoleh berita-berita terdahulu dapat mengunjungi http://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 Bersama koresponden redaksi Armia Arhan.

Subscribe to receive free email updates: