Sebagaimana kita ketahui, penjajah jepang telah menguasi Aceh dan Indonesia pada umumnya setelah pasukan bermata sipit ini berhasil mengalahkan penjajahan Belanda sebelumnya. Keberingasan penjajah Jepang selama 3,5 tahun membuat rakyat begitu sengsara melampaui penjajahan Belanda selama 3,5 abad. Selama penjajahan Jepang rentan waktu 1941-1945 telah membuat rakyat Aceh hidup kelaparan, ketiadaan pakaian dikarenakan semua padi dibakar dan pakaian disita sehingga rayat harus memakai pakaian dari bahan goni yang penuh dengan kutu. Belum lagi kerja paksa yang diterapkan pasukan Jepang untuk membuat pangkalan militer mereka. Khususnya di Kabupaten Bireuen pangkalan militer terbesar Jepang dibangun di Geulanggan Labu Peusangan, di kawasan Peusangan Selatan sekarang. Bom atom sekutu telah meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki sehingga Jepang terpaksa harus keluar dari negeri ini, sehingga mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Di daerah lain di Nusantara Jepang sudah keluar sebelum tanggal 17 Agustus 1945 pulang dengan selamat kenegri mereka meskipun sebagian mereka tewas karena perlawanan rakyat maupun tewas karena banyak dari mereka yang melakukan aksi bunuh diri atas kekalahan bangsa mereka dari pihak sekutu.
Namun tidak demikian halnya di Aceh khususnya diwilayah Bireuen, rakyat Bireuen khususnya Peusangan tidak memberi ruang (Bi ruweung..red) sedikitpun pada pasukan Jepang yang sudah terkepung di Markas Gelanggan Labu Peusangan Selatan. Rakyat Peusangan saat itu sangat kompak dan tidak lagi saling Peusak Ngon (lepas tanggungjawab..red) untuk memerangi Jepang yang telah mereka kurung di Geulanggan Labu sana. Hampir dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan, pasukan Jepang di Markas Geulanggan Labu belum bisa turun, sebagian dari mereka sudah kelaparan karena logistiknya terputus akibat dikepung oleh masyarakat Peusangan dan pejuang-pejuang Bireuen kala itu.
Namun akhirnya, pada tanggal 24 November 1945, pasukan Jepang yang sudah sekarat di beri ruang sedikit sehingga merekapun berusaha untuk keluar, naik kereta api untuk pulang kenegerinya.
Namun apa yang terjadi, para pejuang Peusangan dan sekitarnya ternyata telah memotong rel kereta api di kawasan Krueng Panjoe, sehingga kereta api yang dipenuhi pasukan HEI HO itupun terbalik disana. Pecahlah perang yang superdahsyat di kawasan kuta Krueng Panjoe pada saat matahari baru remang-remang subuh. Di atas pohon Tualang para pejuang Krueng panjoe berhasil memberondong pasukan Jepang dengan senjata laras panjang merek L.E yang terkenal saat itu. Ratusan penjajah terkapar bersimbah darah disitu, ditengah kegalauan mereka karena negerinya telah hancur dihantam bom atom. Krueng Panjoe (bekas sungai..red) sebagian airnya menjadi merah hari itu karena banyak Jepang yang kena tembakan merayap kedalam sungai kecil disana saat itu. Ratusan prajurit Jepang termasuk beberapa perwira didalamnya menemui ajalnya disana, yang setengahnya lagi dari mereka berhasil pulang dengan membawa badan yang terluka ke negerinya.
(memoriam of prang Krueng Panjoe 1945)
Apa itu Krueng Panjoe.... ?
Krueng Panjoe bukanlan nama sebuah desa, tapi nama sebuah kawasan yang disana dulunya dilintasi oleh sungai, dan sungai (krueng) itu ditumbuhi banyak pohon Kapuk (bak Panjoe) sehingga disebut Krueng Panjoe. Ditempat itulah diakhir thn 1945 pejuang-pejuang Bireuen berhasil mengeroyok pasukan Jepang yang hendak pulang, sehingga pecah peperang yang Megadahsyat. Beberapa pejuang kita gugur disana yang namanya dapat anda temukan diprasasti tugu juang yang dibangun disana. Kini kisah heroiknya perang di Krueng Panjoe seakan terlupakan oleh generasi sekarang. Karena para sejarawan tidak menulis kedepan akan dianggap dongeng semata. Sudah selayaknya pemerintah, disini minimal bupati Bireuen, siapun orangnya,, sesekali memperingati hari pahlawan nasional di tugu Krueng Panjoe, setidaknya dapat mengingatkan kembali kisah para pejuang Bireuen yang tidak Bi ruweueng (Beriruang..red) sedikitpun bagi para penjajah, dan dapat melakukan pemugaran agar situs sejarah perjuangan bangsa tidak hilang ditelan senjakala dan angin malam.
Pastikan anda selalu bersama....dan bagi anda yang baru bergabung dapat mengakses berita selengkapnya di... Bersama koresponden redaksi Armia Arhan.


