(Edisi Tokoh Legenda). Bagi anda yang pernah mengikuti serial Tutur Tinular, nama Mei Shin mungkin tidak asing lagi, karena ia merupakan tokoh legenda pendekar perempuan cantik yang terdampar bersama suaminya Lou Shi Shan di tanah jawa pada masa dinasti Yuan Khubilaikhan (1279-1368 M), yang kisahnya berlatarkan keruntuhan kerajaan Singosari dan berdirinya kerajaan Majapahit.
Jauh sebelum kisah pendekar wanita Mei Shin, ternyata di Aceh juga punya kisah yang hampir sama. Seorang pendekar wanita beracun dari negeri Tirai bambu Putroe Neng yang bernama lengkap Nian nio lian khie. Laksamana perang wanita ini diyakini berasal dari dinasti Song (960-1268 M) yang berhasil menaklukkan kerajaan Lamuri Aceh masa pemerintahan raja Indra sakti.
Putro Neng
Jika pendekar cantik Mei Shin yang merupakan sosok legenda dalam kisah Tutur Tinular karya S. Tijab itu sampai hari ini belum mampu memberikan fakta yang akurat tentang keberadaannya. Berbeda dengan Nian nio lian khie yang fakta keberadaannya dapat ditunjukkan berupa makam pekuburannya yang terletak di pinggir jalan Banda Aceh-Medan desa Blang Pulo - Lhokseumawe-Aceh.
Jika Mei Shin terdampar ke tanah Jawa bersama suami Lou shi san dalam rangka menyelamatkan pedang beracun Nagapuspa, lain lagi dengan Nian nio lian khie yang terdampar di Aceh meskipun akhirnya harus menjadi tawanan pasukan islam Perlak pimpinan Meurah Johan.
Berdasarkan riwayat tutur putroe Neng yang sempat menaklukkan kerajaan Lamuri, berasal dari dinasti Song yang mengemban misi mengembangkan ajaran Budhis terhadap kerajaan Hindu Lamuri. Banyak orang tidak mengetahui tentang asal usul wanita beracun itu. Ada yang berpendapat ia merupakan putri dari kaisar dinasti Tiongkok, namun ada juga yang berpendapat kalau putroe Neng bukanlah putri Kaisar melainkan anak panglima militer jenderal O Nga lian khie yang juga sempat menyerang Lamuri beberapa waktu sebelumnya.
Jendral O Nga lian khie tewas saat menyerang kerajaan Lamuri pada penyerangan tahap pertama, ia meninggalkan bayi perempuan yang kelak menjadi putri angkat kaisar dinasti Song yang diberi nama Nian nio dan Lian khie berarti suku penghuni bukit. Suku Lian Khie merupakan suku pendekar yang menjadi pengabdi berpuluh-puluh tahun bagi dinasti Song saat itu. Putroe Neng kecil memang sengaja dipersiapkan kaisar dinasti Song dengan menempatkannya dibagian kemiliteran. Nian Nio juga dibekali racun yang mematikan dalam kemaluannya yang dimasukkan oleh nenek Khie Nai nai salah seorang tabib spritual kerajaan dinasti Song. Penempatan susuk beracun dalam mahkota putroe ini bertujuan selain sebagai susuk kecantikan, kekebalan, dan jika sewaktu-waktu Nian nio kalah di medan perang dan menjadi tawanan, alih-alih bisa dijadikan hadiah perang, karena siapa saja yang menyetubuhinya akan meregang nyawa.
Mei shien
Jika Mei Shien harus terlunta-lunta setelah suaminya Lou shi san terbunuh oleh pendekar Singosari, yang membuat Mei Shin harus terjebak prahara cinta dua bersaudara antara Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga. Lain lagi kisah Nian nio, meski ia berhasil menaklukkan kerajaan Lamuri dan menyingkirkan raja Indra Sakti dan membuat benteng bernama benteng pasukan Lian Khie (di lingke,..sekarang), namun pasukan Islam Meurah Johan dari perlak behasil mengalahkan pasukan wanita beracun itu, serta Nian nio sendiri sebagai panglimanya berhasil ditawan. Pasca putroe Neng bersama sejumlah perwira pasukan wanita bermata sipit tertawan, terjadilah perjanjian damai antara pasukan islam Meurah Johan dengan pihak kekaisaran dinasti Song saat itu. Dari perjanjian damai itu, putroe Neng akhirnya di jadikan hadiah perdamaian dan persahabatan untuk Meurah Jouhan dengan syarat pasukan Meurah harus melepaskan seluruh tawanan-tawanan yang lain.
Kecantikan Putroe Neng membuat Raja Meurah Jouhan tidak mampu menahan keinginannya untuk mengawini Nian nio. Namun petaka baginya, malam pertama menjadi malam terakhir bagi Meurah Jouhan, yang paginya tubuh Meurah sudah membiru sebiru laut Lamuri disiang hari.
Putro Neng tidak hanya menumbangkan Meurah Jouhan sebagai suami pertama sekaligus korban pertamanya, namun telah menumbangkan 98 suami-suami yang lain baik dari kalangan panglima perang, raja-raja bawahan, ekonom, pebisnis yang semua tidak mampu melewati malam pertamanya bersama Putroe.
Meurah Jouhan sebagai korban pertamanya, ditambah 98 korban suami lainnya, sama dengan berhasil menumbangkan 99 orang suami yang meregang nyawa. Sungguh angka yang sangat fantastis. Putroe Neng boleh kalah di medan perang namun tidak akan kalah di medan ranjang, namun petualangannya berakhir pada suami yang ke 100 yaitu seorang Kiai bernama Syeh Abdullah lam peuneu eun alias Sheh Hudam. Ia berhasil melewati malam pertama dengan Nian nio karena berhasil mengeluarkan racun berbisa pada mahkota putroe. Ternyata kuncinya, Sheh Hudam setelah menikahi Putroe tidak langsung mengajaknya berperang melainkan mengajari putroe Neng ajaran islam yang lebih dalam, sehingga jiwa keislaman mampu mengubah watak putroe Neng yang kejam dan beringas menjadi lemah lembut sehingga mengakui tentang rahasia racun berbisanya itu.
Keinginan Sheh Hudam untuk mengawini putroe Neng sebelumnya sempat mendapat cercaan dan imeg negatif dari rakyat sekalian pada masa itu. Kredibilitasnya sebagai seorang ulama besar seakan menjadi guyonan dan ulok-ulokan masyarakat awam yang tidak memahami hakikat dan tujuan kiayi itu yang sebenarnya. Padahal Sheh Hudam ingin mengawini Putroe semata-mata untuk menyelamatkan negeri atas begitu banyaknya pembesar dan orang-orang penting yang telah tewas secara misterius setelah menikahi wanita hadiah kaisar itu. Atas doa-doa murid-muridnya dipadepokan, akhirnya Sheh berhasil memenangi sejumlah sayembara yang menjadi syarat untuk memperoleh kesempatan menikah dengan Putroe, ditengah banyaknya para laki-laki bangsawan lainnya yang telah gila ingin membuktikan keperkasaannya mampu melewati malam pertama saling bersaing untuk mendapatkan kue bingkisan dari kaisar Tiongkok.
Sheh Hudam selanjutnya berhasil mengeluarkan racun itu di malam pertamanya. Tentang bentuk racun terjadi perbedaan pendapat diantara para mazhab tutur.
Perdapat pertama, racun yang dikeluarkan itu berbentuk binatang berbisa seperti limpan, kala jengking, ular kecil dan sebagainya.
Pendapat kedua, racun yang dikeluarkan itu berbentuk cairan seperti darah yang menghitam yang kemudian dimasukkan dalam bambu yang sebagian dibuang ke laut dan sebagian lagi dibuang ke gunung.
Pendapat yang ketiga, racun yang dikeluarkan itu berupa susuk berduri yang dipasang sangat rahasia, bila senjata tergores sedikit saja, maka tubuh pemiliknya langsung kaku membiru.
Terlepas pendapat mana saja yang benar, karena yang mengetahui sebenarnya hanya Sheh Hudam dan putroe Neng saja. Setelah racun dari tubuhnya dikeluarkan, wajah Nian nio yang cantik berobah meredup tua. Dan mereka berdua menjadi suami istri sampai akhir hayatnya.
Itulah dua pendekar wanita negeri Tirai bambu Nian Nio dan Mei shin, antara legenda dan fakta yang pernah terdampar di Nusantara
Itulah edisi tokoh legenda kali ini versi @TUTUR KEUNARANG semoga bermanfaat..!

