(Edisi serba-serbi). Mungkin bagi anda tidak asing lagi mengenali jenis hewan lunak ini. Orang menamai hewan ini "Sipot Bui" atau Bekicot (Achatina fulica). Hewan lunak ini sangat menjijikkan bagi sebagian orang, namun sebagian suku dan masyarakat di Indonesia, malah menjadikannya makanan dengan berbagai kuriner, seperti sate, sop bahkan diolah jadi keripik sambal bekicot. Khususnya bagi masyarakat Aceh, "Sipot Bui" merupakan hewan yang sangat menjijikkan bahkan diidentik haram untuk memekannya. Siput yang padanan kata pada namanya di sandingkan dengan kata "sipot" dan "Bui" yang berarti "siput babi" semakin menambah nilai dan aroma tingkat keharamannya pada masyarakat Aceh yang notabenenya beragama islam, meskipun kedua kata pada namanya itu sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali.
Berdasarkan berbagai referensi yang Redaksi Tutur dapatkan, "sipot Bui" atau bekicot (achatina fulica) merupakan jenis siput yang berasal dari Afrika Timur dan Asia Timur. Luas penyebaran hewan ini tidak terlepas kaitannya dari penjajah Jepang yang menjadikan "Sipot Bui" sebagai makanan dan mereka bawa ke setiap daerah jajahan mereka pada saat perang dunia II kususnya di kawasan Asia Tenggara,(baca: Special repot besama NUnu, jepang makan bekicot di Geulanggan Labu.. Peusangan). Pasca kemerdekaan Indonesia, yang membuat Jepang pulang kenegerinya yang telah luluh lantak oleh guncangan bom atom sekutu, bekicot-bekicot yang bereka pelihara disini, tidak sempat lagi mereka jaga, apalagi untuk dibawa pulang bersama mereka ke negeri sakura sana. Menurut suatu keterangan, sangking sayangnya penjajah Jepang pada hewan yang satu ini, mereka juga berusaha membawa pulang "Sipot Bui" ke negeri mereka. Akan tetapi akibat perlawanan rakyat saat mereka pulang di jalanan mengakibatkan bakicot-bakicot ini berserakan sehingga menyebar liar kesana kemari waktu itu, (baca: kereta api Jepang terbalik di Krueng Panjoe, karena rel dipotong para pejuang). Pada saat kereta api terbalik dan mereka banyak yang terbunuh, disisi lain banyak goni-goni yang berisi Bakicot tumpah kala itu ditengah kepanikan mereka, sehingga menyebar tak tentu arah. Dari proses inilah "Sipot Bui" berkembang biak di Indonesia termasuk di Aceh karena bermigrasi bersama penjajah Jepang di Asia saat perang dunia II tempo dulu. Adapun suku masyarakat di Indonesia yang doyan memakan "Sipot Bui" (bekicot..red) tentu mempunyai hubungan emosional dan nilai-nilai historis dengan penjajah Jepang tentunya.
Berdasarkan berbagai referensi yang Redaksi Tutur dapatkan, "sipot Bui" atau bekicot (achatina fulica) merupakan jenis siput yang berasal dari Afrika Timur dan Asia Timur. Luas penyebaran hewan ini tidak terlepas kaitannya dari penjajah Jepang yang menjadikan "Sipot Bui" sebagai makanan dan mereka bawa ke setiap daerah jajahan mereka pada saat perang dunia II kususnya di kawasan Asia Tenggara,(baca: Special repot besama NUnu, jepang makan bekicot di Geulanggan Labu.. Peusangan). Pasca kemerdekaan Indonesia, yang membuat Jepang pulang kenegerinya yang telah luluh lantak oleh guncangan bom atom sekutu, bekicot-bekicot yang bereka pelihara disini, tidak sempat lagi mereka jaga, apalagi untuk dibawa pulang bersama mereka ke negeri sakura sana. Menurut suatu keterangan, sangking sayangnya penjajah Jepang pada hewan yang satu ini, mereka juga berusaha membawa pulang "Sipot Bui" ke negeri mereka. Akan tetapi akibat perlawanan rakyat saat mereka pulang di jalanan mengakibatkan bakicot-bakicot ini berserakan sehingga menyebar liar kesana kemari waktu itu, (baca: kereta api Jepang terbalik di Krueng Panjoe, karena rel dipotong para pejuang). Pada saat kereta api terbalik dan mereka banyak yang terbunuh, disisi lain banyak goni-goni yang berisi Bakicot tumpah kala itu ditengah kepanikan mereka, sehingga menyebar tak tentu arah. Dari proses inilah "Sipot Bui" berkembang biak di Indonesia termasuk di Aceh karena bermigrasi bersama penjajah Jepang di Asia saat perang dunia II tempo dulu. Adapun suku masyarakat di Indonesia yang doyan memakan "Sipot Bui" (bekicot..red) tentu mempunyai hubungan emosional dan nilai-nilai historis dengan penjajah Jepang tentunya.
Kenapa orang Aceh menamakan bekicot "Sipot Bui"...?
Sipot Bui merupakan hewan menjijikkan bagi suku masyarakat Aceh pada umumnya. Apalagi masyarakat yang agamis yang mensyaratkan makanan yang halal dan juga baik. Meskipun antara Siput dan Bui (babi) tidak punya nilai historis dan kaitan sama sekali. Lalu kenapa orang Aceh menamakannya demikian,..begini ceritanya..!
Pasca pulangnya penjajah Jepang, Sipot Bui atau bekicot ini berkembang biak begitu cepat khususnya di Aceh. Siput ini memangsa tanaman petani seperti kedelai, kacang panjang, semangka, labu, timun ketika tanaman-tanaman itu baru tumbuh. Karena merusak tanaman, bekicot menjadi musuh dan momok tersendiri bagi petani saat itu. Karena petani begitu marah pada siput ini dulunya, maka siput ini sering dicerca untuk melampiaskan kemarahan petani usai mendapatkan tanaman-tanaman mereka habis dimangsanya dimalam hari. Salah satu kata cercaan untuk melampiaskan kemarahan mereka dengan makian Sipot Bui.. Siput Babi,....! dikarenakan orang-orang pada saat itu juga belum tau nama dari sipot peninggalan jepang itu. Sehingga rasilah namanya sampai sekarang "Sipot Bui" atau bakicot (achatina fulica)....
Bagaimana komentar anda....?
By redaksiana @TUTUR KEUNARANG http://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 bersama koresponden redaksi Armia arhan.

