WASAKDON DAN GANASNYA SUNTIKAN JAROM COP TIKA...


(Edisi Cerpen). Disuatu sore menjelang senja yang merah merkah, enampuluhlima tahun yang lalu. Wasakdon nampak tertatih-tatih setengah sempoyongan, perasaan lelah, letih seakan meluruhkan seisi otot-otok tua, setua senja itu yang telah dipenuhi keriput namun masih tampak tegar bila dibandingkan wanita lain seusianya. Mablien itu (bidan..red) baru saja pulang dari membezuk ponakannya Lina yang jauh di kota sana. Untung saja ditengah perjalanan pulang, sepeda ontel Keuchiek Matsyah ikut membantu memboncengi wanita tua itu melawan ganasnya jalan berbatu yang penuh tanjakan menuju desa kami "Leubok Eumpeuk" yang masih sangat terpencil. Hempasan-hempasan sepeda Ontel keuchik Matsyah menyisakan kelelahan yang mendalam disertai rasa nyeri disetiap guratan perutnya, meskipun akhirnya sampai juga dirumahnya di balik bukit "Cot Tameh Brok" itu. Ya.., rumah panggung yang berdinding tepas bambu yang tampilannya sangat jauh dari kemewahan.

Ternyata dirumahnya sore itu, sudah sangat banyak pasien-pasien Wasakdon yang sedari tadi setia menunggunya. Di rumah panggung itu, terdapat sebuah bilik kecil yang biasanya menggema suara "ah-uh" wanita melahirkan, atau hanya sekedar membenarkan posisi bayi, bahkan kadang kala menggema suara "prak-pruk" ketika tabib wanita tua itu memukul pasienya dengan "Tika roh" (tikar usang..red) bagi pasiennya yang sakit berbintik bintik gatal ala pengobatan tradisional. Kadang sesekali terdengar suara "tak-tuk" ketika Wasakdon memotong dedaunan tertentu beralaskan tempurung kelapa diatas kepala pasienya sebagai cara pengobatan sakit mata alternatif.

Meskipun sangat lelah, namun dihati Wasakdon menyimpan secercah kebahagian disenja itu. Ya.. satu pengalaman yang sangat berharga ketika berada dikota, yang sekonyong-konyong seumur hidupnya baru kali itu ia melihat cara seorang mantri kesehatan mengobati pasiennya. Masih segar diingatan Wasakdon ketika Bong Raman satu-satunya mantri kesehatan di kota, saat mengobati Lina yang sakit demam tinggi yang sudah terkulai lemas diranjang beberapa hari. Yang paling terkesan Wasakdon saat Bong Raman menusukkan Jarum dipantat mulus Lina yang putih bersih, diiringi suara jeritan kecil Lina. Mata Wasakdon yang sudah rada slala, begitu memperhatikan dari jauh adegan Bong Raman meskipun dengan tanpa banyak tanya. Pengalaman itulah yang disimpan erat-erat dibenaknya, yang mungkin bermanfaat baginya, apalagi Wasakdon juga punya pasien yang sama, bahkan melebihi banyaknya  pasien Bong Raman kala itu.

Meskipun harus menunggu malam, pasien-pasien Wasakdon sore itu rela antri menghabiskan senja dan magrib demi untuk mendapatkan pelayanan.
Tibalah waktu acara pengobatan dimulai. Nyak Tilimah, Kak Ni, Insyah, Wasanan dan Nek Atah merupakan sederetan pasien Wasakdon malam itu. Nampak juga petua Baka yang sedang demam tinggi karena dua hari lalu diguyur hujan saat pulang dari ladang sana, juga ikut antri untuk mendaptkan pelayanan Wasakdon, sedangkan setengahnya lagi sudah pulang dengan berbagai alasan.

"Bagai mana kabar kalian", sapa Wasakdon diawal ia memulai pengobatan. "Dua hari aku di kota, ponakanku Lina sakit, dia diobati mantri Bong Raman disana", cerita Wasakdon sambil memandang raut wajah Peutua Baka yang sedang kedinginan. "Tolong aku duluan", minta peutua Baka yang seolah tak sanggup lagi menunggu, karena seluruh raut wajahnya dipenuhi keringat dingin."Tidak apa, sekarang sudah ada cara baru mengobati deman kayak Lina ponakanku, aku sudah diajari Bong Raman", kata Wasakdon sambil munyuruh Peutua Baka untuk berbaring telungkup."Ini harus disuntik" ujarnya sambil mengeluarkan sebilah Jarom Cop Tika (jarum penjahit tikar..red). Setelah menimang-nimang beberapa saat jarum itu, tangan Wasakdon bergerak pelan melorotkan kain sarung peutua Baka yang kelihatan setengah usang . "Uah-uh, uh", erang Peutua Baka saat ujung jarum Cop Tika Wasakdon menghujam kulit ari pantatnya. Sontak saja semua pasien-pasien lain terbelalak yakin, atas kemajuan Wasakdon yang katanya telah diajari Bong Raman Satu-satunya mantri kesehatan di kota kami, yang baru beberapa bulan lulus sekolah kesehatan di luar daerah. Tidak seorangpun dikampung kami "Leubok Eumpeuk" tau dan kenal, bagai mana sebenarnya cara mantri kesehatan mengobati pasiennya secara medis saat itu. Adegan Wasakdon yang malam itu mempraktekkan suntikan "Jarom Cop Tika" dengan membawa-bawa nama Bong Raman semakin menambah keyakinan, akan kemajuan Wasakdon mengobati para pasien, dan Peutua Bakalah yang menjadi kelinci percobaan saat itu.
--=oo0oo=--
Keesokan paginya, secara kebetulan Peutua Bakapun sembuh, demannya turun, mungkin saja penyakit peutua Baka begitu terkejut atas suntikan jarum penjahit tikar Wasakdon semalaman. Di warung-warung kopi kampung kami saat itu, begitu gempar kabar yang berhembus tentang kemajuan Wasakdon yang katanya telah diajari menyuntik oleh Bong Raman. Belum lagi kabar, sembuhnya petua Baka dari ganasnya demam rimba setelah disuntik Wasakdon semalam. Rumor-rumor ini semakin menambahkan keyakinan dan kebanggaan tersendiri masyarakat desa kami yang terpencil untuk berobat pada wanita tabib tua itu.

Sore-sore dan malam berikutnya. Rumah Wasakdon tumpah ruah dengan bludakan pasien-pasien yang ingin berobat. Apalagi bargaining isu hoax Wasakdon yang mengaku didirinya telah diajari cara menyuntik oleh Bong Raman. Didukung lagi kesembuhan Peutua Baka secara kebetulan, belum lagi seluruh orang-orang di kampung kami belum tau bagai mana tatacara pengobatan secara medis saat itu, apalagi mengenali Bong Raman, yang hanya mereka dengar namanya saja sebagai mantri satu-satunya jauh di kota sana.

Kesembuhan petua Baka ternyata menambahkan semangat tersendiri bagi Wasakdon. Mungkin ketika ia menyuntik petua Baka hanya sebatas menembus kulit ari. Tapi tidak untuk selanjutnya, merasa yakin apa yang ia praktekkan. Apalagi hampir semua pasien-pasien dungu semuanya minta di suntik. Waksakdon pun tidak segan-segan lagi beraksi dengan Jarom Cop Tikanya. Erangan demi erangan pasien membahana, menembus sekat-sekat tepas bambu dikamar praktek Wasakdon. Kini tidak lagi seperti suntikan pertama pada Peutua Baka, suntikan jarum cop tikanya telah lebih dalam menembus hampir tulang pantat pasien-pasiennya.


Namun, apa yang terjadi... Seminggu rata-rata setelah adegan ganasnya suntikan Jarom Cop Tika Wasakdon. Hampir semua pantat pasien-pasiennya bonyok membiru diiringi bengkakan nanah yang putih kuning. Hanya Ampon Basyah satu-satunya orang kaya berdarah biru di kampung kami yang sudah pernah berobat dan disuntik Bong Raman.
Ampon Basyah begitu berang atas kebodohan warga Leubok Eupeuk yang kemudian membongkar malpraktek Wasakdon. Selanjutnya.. Wasakdon ditinggal lesu, semua keikhlasan,keberhasilan dan pengabdiannya berpuluh-puluh tahun sebagai dukun beranak dan tabib desapun sirna. Karena hanya satu kesalahan fatal, yang membuat Wasakdon panen caci-maki, dan hanya bisa menatap asa, menanti janji ilahi, menghaiskan hari-hari diusianya yang semakin senja....
Sekian.. Bagaimana komentar anda....?
By Redaksiana
Masih bersama @TUTUR KEUNARANG Juga dapat anda akses di http://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 bersama koresponden redaksi Armia Arhan.

Subscribe to receive free email updates: