Leman kembali melanjutkan ceritanya. Ketika Nirmala sudah berada di RSJ Banda Aceh, ia ditempatkan di tempat perawatan VIP dan juga menyediakan phisikolog khusus untuknya. Hajah Rajadi tetap saja tinggal disana untuk mengunjungi Nirmala sewaktu-waktu yang diperlukan. Mumpung di Banda Aceh ada rumah saudara mereka yang masih sepupuan Nirmala, yang saat pengantaran Nirmala ke RSJ, mereka ikut menjemput berangkat semobil dengan Leman. Mobil Kijang Haji Rajadah juga ikut dititipkan disana untuk sementara waktu.
"Karena dua hari kemudian yang pulang hanya aku, Haji Rajadah dan Roby" kata Leman, yang saat pulang menumpangi mobil Taf GT 4x4 yang gonta-ganti disopiri Roby dan Leman.
"Dalam perjalanan pulang kami sempat istirahat di sebuah warkop ketika sampai di Matangglumpangdua", kenang Leman yang waktu itu sudah pukul 21:xx malam. Ya, di kota itulah Nirmala pernah kuliah disalah satu kampus hingga berkenalan dengan Abdullah hingga membuar Nirmala patah hati sehingga berujung ke rumah sakit jiwa. "Lantas bagai mana ceritanya disana", tanya Jakir sebelum aku sempat mengajukan pertanyaan pada Leman. "Kami beristirahat satu jam lebih sambil ngopi dan menikmati hidangan Sate matang", jawab Leman melanjutkan kisahnya di salah satu warkop di Peusangan. Disitulah menurut Leman malam itu ia mendengar pembicaraan haji Rajadah dan Roby yang berencana untuk melenyapkan Abdullah. Sangat segar ditelinga Leman ketika Roby menyarankan agar Abdullah "disekolahkan" saja jika ketemu. Sayup-sayup rendah pembicaraan Roby dan Rajadah itu terdengar Leman disela-sela kunyahan sate Matang setusuk demi setusuk yang mereka lahap malam itu. "Nak.. Gimana Maksudmu..?", tanya tuan Rajadah pada Roby yang belum begitu mengerti tentang istilah menyekolahkan Abdullah. "Kan aku banyak kenalan disana, apalagi sekarang.. kitakan daerah operasi..", isyarat Roby yang menurut pemahaman Leman, bahwa mereka ingin melibatkan oknum-oknum tertentu untuk menghabisi Abdullah. Menurutnya, Leman hanya terdiam saja, tanpa membantah sepatah katapun akan siasat yang sedang mereka atur saat itu.
Nirmala
Sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang, alangkah terperangahnya Leman ketika ia diberikan uang 500 ribu rupiah. "Ini pinayahmu, selama ini, bantu antar Mala, yang penting kamu terus bantu kami berdua", pintanya pada Leman termasuk untuk mau bertugas mencari Abdullah, mengingat Leman juga berasal dari Peusangan. Uang 500 ribu saat itu, lumayan fantastis bagi Leman, sedang harga emas saja hanya 85 ribu rupiah pemanyamnya tahun 1996. Tidak sekonyong-konyongnya haji Rajadah sedermawan itu, karena Leman sangat mengenali sosoknya ketika ia bekerja pada usaha pertambakannya dulu. Namun Leman menyanggupi saja tugas yang di berikan Rajadah saat itu, mungkin inilah kesempatan Leman untuk merogoh kantongnya itu. Apa lagi dulu banyak gaji upah Leman yang tak jelas pembayarannya sebelum ia sempat dipecat awal tahun 1994, belum lagi pesangon yang tak ia dapatkan sama sekali kala itu. "Soal untuk mencari jejak Abdullah untuk disekolahkan, belum tentu kulakukan, apalagi ini menyangkut nyawa manusia", gumam Leman dalam benaknya, hingga tersentak ketika Roby mengajaknya kemobil untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Leman kembali menceritakan, sepulang mengantar Nirmala ke RSJ, haji Rajadah mulai menjual sepetak demi sepetak tambaknya yang waktu itu tidak produktif lagi berhubung usaha budidaya udang windu sudah terserang penyakit. Di tambah lagi musibah yang menimpa anak gadis satu-satunya yang membutuhkan biaya besar di RSJ, termasuk untuk memberi imbalan pada Leman yang setiap seminggu sekali ditugaskan pulang ke Peusangan untuk mencari tau keberadaan Abdullah, juga butuh biaya banyak untuk membayar oknum tertentu untuk menghabisi Abdullah jika sudah terendus keberadaannya... Bersambung... Mencari Abdullah tugas berat bagi Leman...meskipun sudah dibelikan sebuah sepmor merk GL Pro sebagai kenderaan operasional Leman.... Tetaplah ..bersama Tutur Keunarang pada episode selanjutny..! Sampai jumpa....!
