Baru saja Aku hendak merebahkan tubuhku kembali selepas subuh untuk menunggu keadaan di luar lebih terang, namun ayam-ayam di kandang belakang rumahku nampak begitu gaduh tidak seperti biasanya. Saat itu Aku lekas bergegas berusaha melihat kearah kandang tentang apa yang terjadi. Terlihat sepintas seekor binatang menerjang lari menghempas
bayang-bayang kegelapan pagi itu. Dipikiranku mungkin saja musang atau kucing hutan yang ingin mencari mangsa, sehingga aku tidak terlalu ambil peduli kejadian selepas subuh itu.
Namun, kejadian serupa kembali terjadi dua sampai tiga subuh selanjutnya. Di kandang ayam belakang rumahku kembali terdengar suara "kep-kop, kek-kok" sehingga aku lekas berlari mengejar pada kejadian subuh yang ketiga. Lagi-lagi seekor binatang misterius menerobos suasana yang masih gelap diiringi suara "meuciep-ciep" petanda binatang itu telah berhasil mendapatkan mangsa anak-anak ayam dari kandangku yang beberapa minggu lalu baru saja menetas.
Ternyata kejadian serupa, tidak hanya terjadi di kandang rumahku saja. Anak-anak ayam di kandang Bantarisyah, kandang Ambidah, Wa Raliah, kak Nu, kak Bad, dan tungku Salman ternyata telah duluan habis dimangsa pada puluhan subuh sebelumnya. Kata Bantarisyah, moster pemangsa ayam-ayam itu bukanlah musang atau kucing hutan, melainkan seekor kucing kuning yang pernah ia kejar dan menghilang masuk ke rumah tua.
Kucing Kucing
Ya.. Sebuah rumah tua peninggalan Nek Asan, yang telah lama tak berpenghuni. Rumah yang terkesan angker itu, sudah begitu lama kosong karena enggan ditempati anak-anak dan cucu Nek Asan sepeninggalnya. Bantarisyah telah beberapa kali membuntuti, kalau kucing kuning misterius itu selalu menghilang dari kejarannya setelah berhasil memasuki rumah tua itu. Wajah kucing kuning begitu seram, gelagatnya yang begitu liar serta kemunculanya untuk mencari mangsa hanya selepas magrib dan subuh, sedangkan siang bersembunyi di rumah tua yang selalu tergembok pintunya, cerita Bantarisyah padaku.
Cerita yang Ku dapatkan dari Bantarisyah semakin membuat semangatku naik untuk mengendus binatang itu.
Subuh selanjutnya, Aku telah lebih siap, termasuk parang dan senter. Minimal Aku bisa mengenali bentuk kucing yang diceritakan Bantarisyah, sehingga tidak salah sasaran terhadap kucing yang tak berdausa lainnya, jikapun Aku harus bertindak untuk membunuhnya sekalipun. Ternyata penungguanku disubuh terakhir itu tidaklah sia-sia, ternyata kucing kuning itu benar-benar kembali mengganggu kandang ayamku. Beruntung, cipratan cahaya seterku berhasil menerobos gelap dan tepat menerangi pada posisi kucing jahat itu. Aku benar-benar kaget, cerita Bantarisyah nyatanya tidak meleset sama sekali, benar-benar seram tampang kucing kuning itu, meskipun ia hanya kucing biasa sebenarnya. Mukanya begitu seram, melebihi wajah liar kucing hutan (Rimueng buloh), meski aku hanya sempat menyaksikan sepintas saja karena keburu menghilang seperti malam-malam sebelumnya.
Tak sengaja siangnya, ayam-ayam di kandang belakang rumahku kembali gaduh. Tidak biasanya kucing itu menyerang di siang bolong, mungkin kegagalan subuh tadi akibat terawangan cahaya senterku membuanya lapar hari itu, sehingga terpaksa menyerang kandangku lagi siang itu juga. Setelah Kupastikan melalui celah-celah dinding rumah, ternyata benar dia. Tanpa persiapan matang, Aku langsung menarik parang dan bergegas mengejarnya. Aku begitu emosi siang itu, aku berlari sekuat tenaga seperti sedang kesetanan mengejar kucing kuning yang seram itu. Di tengah pengejaran Aku melemparnya dengan parang, namun lemparanku kalah cepat, kucing itu berhasil mengelaknya dengan gesit. Aku tidak mempedulikan parangku yang terjatuh akibat gagal mengenai tubuhnya. Aku terus berlari mengejarnya, jiwaku yang seperti kesetanan ternyata mampu membuat kucing penghuni rumah angker itu kewalahan juga, hampir saja beberapa kali tubuhnya berhasil ku tendang. Namun tanpa ku sangka sang kucing menyelamatkan diri dengan begitu cepat menaiki sebatang pohon asam belimbing yang tingginya sampai ke pucuk bertengger di atas sana.
Rumah Tua
Aku berteriak keras "tolong..!, tolong sergap, kucing kuning..!, kucing kuning sudah diatas pohon..", teriakku sekuat-kuatnya. Sontak saja orang-orang yang belum pernah melihat kucing kuning itu berhamburan ikut mengepung membantuku di bawah pohon belimbing. Tungku Salman imam dusun kami begitu terburu-buru keluar, hanya dengan kain sarung. Kulitnya yang putih nampak goresan-goresan ranting memerah menyelingi diantara perut dan rusuknya. Ayahku juga sudah menyusul dengan memegang sepotong nuga puntungan kayu balok begitu juga dengan Tungku Salman dan beberapa lainnya.
"Abang..!, mana dia..!", tanya Tungku Salman dengan suaranya yang rada-rada gagap dan gemetar karena terlalu tergesa-gesa. Sudah kebiasaan pak imam kami itu tidak bisa berbicara buru-buru karena sedikit gagapan. "Tolong semua jaga disini, agar kucing itu tidak turun dan melompat", pintaku pada mereka, yang kemudian Aku bergegas kembali ke rumah untuk mengambil senapan angin.
Sekembaliku bersama senapan angin, ternyata kucing itu masih bertenger di tempat semula, diantara himpitan cabang-cabang pucuk belimbing itu. Aku lansung membidik senapan merek "Bramasta" kearah kucing liar itu, "dhoor, ! Tambakanku yang pertama tepat mengenai mukanya, sejenak kembali aku memompa senapanku, Ku lepaskan tembakan lagi, kembali mengenai sasaran. Berulang-ulang tembakan ku lepaskan, hingga tak sanggup ku hitung lagi. Percikan darah berhamburan membasahi dahan dan cabang-cabang pohon belimbing, sampai beberapa tetesan terpercik ke tubuh tungku Salman yang berkulit putih itu.
"Cukuplah Nak..!, nampaknya ia sudah mati", kata ayahku sambil menunjuk tubuh kucing yang sudah terkulai di selangkangan cabang belimbing yang sangat tinggi. "Kamu naik saja, kau juluh dia dengan parang, biar jatuh", saran ayah padaku. Akupun bergegas naik dengan sebilah parang, namun tubuh kucing itu kembali bergerak. "Cepat Nak, kau bacok saja dia, biar dia tidak teraniaya", pesan ayahku dari bawah yang diiakan Tungku Salman di bawah pohon.
Namun, baru saja hendak ku ayunkan parang, dengan sigap kucing itu melompat kuat kearah belukar, melesat kencang membelah rimbunnya belukar ke arah rumah tua. Kucing itu hanya menyisakan darah di pohon belimbing dan percikan-percikan pada raut wajah tungku Salman yang berkulit putih dengan sedikit brewokan tipisnya.
Pasca penyergapan dan penembakan terhadap kucing seram itu. Hampir sebulan tak ada lagi gangguan terhadap ternak ayam di dusun kami. Tak ada juga berita selanjutnya tentang kemunculan kucing itu lagi. Bantarisyah, Tgk. Salman, kak Bat, Nu Aini, Wa Raliah merasa telah begitu aman dari teror kucing kuning, bahkan menganggapku bagaikan pahlawan yang telah menghilangkan penyakit. Lain lagi komentar masyarakat dusun sebrang yang mencap aku berdausa karena telah menembak kucing, sebagai binatang yang lazim di muliakan di tempat kami.
Tapi, tidak ada yang menyangka lagi, sebulan kemudian kucing kuning itu kembali muncul, namun tubuhnya sudah agak kurusan. Selanjutnya tidak hanya anak ayam yang dimangsanya, tapi ayam-ayam besarpun mulai diserang. Seisi dapur Bantarisyah pun diobrak abrik sampai pecah periuk belanga dan sejumlah peralatan dapurnya. Aku dan Bantarisyah bersama beberapa yang lain kembali melakukan pemburuan Kucing kuning itu kembali. Lagi-lagi, usaha kami gagal dan selalu berakhir di halaman rumah tua itu.
Suatu siang, alangkah kagetnya aku, ketika Bantarisyah menjemputku ke rumah. Mengabarkan kalau kucing kuning telah terjerat jaring yang dipasang di dapur rumahnya. Akupun bergegas ke ruamah bang Banta siang itu juga. Ku lihat kucing itu telah di ikat di belakang dapurnya. Dua punca tali temali telah melilit kuat pinggang dan leher penghuni rumah angker itu. "Nah, sudah ketangkap buronan kita", kata bang Banta sambil menyungging senyuman tipisnya kearahku. Anehnya, setelah tertangkap kucing kuning itu sudah tidak seliar yang dulu, ia terus mengeong-ngeong manja dihadapanku, seakan minta ampun pada kami berdua. Kamipun tak tega lagi memukul kucing yang pernah kami benci yang sudah berbulan-bulan menjadi buronan warga dusun Hagu panyang di tempat tinggal kami itu. Sampai aku mengelus-elusnya kasihan. Ku periksa mukanya yang pernah ku tembak beberapa bulan lalu. Seakan tidak berbekas sama sekali. Padahal puluhan butir peluru senapan anginku pernah merincamkan muka kucing kuning itu. Tanganku terus mengelus kulitnya, hanya di bawah kulit dahi teraba olehku masih ada sebutir peluru senapan angin, di belakang telinga satu dan di kulit pinggangnya satu peluru. "Mau dibuang kemana kucing ini" tanyaku. "Entahlah" jawab bang Banta kebingungan. "Membuang ke tempat lain sama saja mengantarkan penyakit bagi orang lain" ku coba ingatkan bang Banta agar tidak membuang kucing itu sembarangan, karena akan menjadi teror baru bagi orang lain. "ngak apa-apa, kalau Pak Lah ada menjala ikan ke laut, saya mita bantu dibuang kesana saja, di kawasan yang tidak ada rumah penduduk dan kandang ayam" ujar bang Banta mengakhiri kesimpulan tentang nasib si kucing kuning itu. "Akan lebih baik kucing seperti ini dibuang saja ke pulau Nusa Kambangan..!", selorohku mengakhiri pembicaraan kami siang itu. Waktu dhuhur akhirnya memisahkan kami, berakhirlah hari itu petualangan kami bersama warga Hagu Panyang lainnya memburu sang penghuni rumah tua.

