NIRMALA EPISODE 1

Disuatu hari pada tahun 1998, yang hari dan tanggalnya itu tidak teringat lagi olehku. Saat itu aku berada disuatu kawasan daerah pesisir sebelah timur kota Petro dolar, yang hari itu kami bersama rombongan mengantar pengantin. Belum hilang rasanya perasaan lelah di sekujur tubuhku, karena kami berangkat jauh dari negeri Ampon Chiek di kota Matang pukul 10:15 dan sampai disana menjelang jam 12 siang.
Prosesi acara antar pengantin hari itu memang sudah usai, namun aku dan Jakir temanku nampaknya tak bisa terus pulang bersama rombongan kami yang sudah mulai satu persatu masuk ke bus BE (Bireun Expres) untuk segera kembali ke Peusangan. Leman mengajak kami untuk singgah ke rumahnya, yang tak jauh dari tempat pesta hari itu. Leman adalah pria asal Matang yang kebetulan sahabat karib kami semasa SMA dulu. Lama kami sudah tidak bersua, maklum karena Leman sudah sepuluh tahun lebih menetap disana. Ia mulai berdomisili di pesisir utara timur kota Petro dolar semenjak jaya-jayanya usaha pertambakan udang windu masa itu. Aku, Jakir dan Leman sudah sangat lama berpisah semenjak ia menetap disana. Bekerja diusaha pertambakan udang windu membuat Leman sahabat kami menetap disana karena Leman benar benar sudah mendapatkan "Udang Windu" benaran sebagai pendamping hidupnya.

Nirmala

Hari itu aku dan Jakir jadi juga singgah di rumah Leman. Setelah shalat zhuhur kami berbincang akrab di sebuah balai di pekarangan rumah Leman siang itu. "Man..!, hidup kamu sudah lumayan disini, wajar jadi ngak sering pulang kampung lagi", kataku setengah berseloroh padanya. "Mana ada, apalagi sekarang usaha udang Windu sudah macet, sudah setahun terakhir semua pengusaha disini sudah gulung tikar akibat diserang penyakit," jelas Leman tentang usaha pertambakan udang mereka yang sudah carut marut saat itu. Kami berbincang begitu hangatnya dan sesekali kami menceritakan kenangan ketika SMA dulu.
Namun tiba-tiba aku begitu kaget, karena kudengar pekikan dan teriakan seorang wanita di sebuah rumah besar bersebelahan dengan rumah Leman. Saat suara itu muncul kebetulan Leman sudah permisi sebentar menuju toiletnya. Lantas Aku dan Jakir beranjak mendekati rumah tetangga yang tergolong agak mewah pada masa itu. Alangkah terkejutnya kami karena suara wanita yang berteriak-teriak serta sesekali berpekik keras, kadangkala tertawa ternyata ada di sebuah gubuk panggung reot di samping belakang rumah mewah tadi. Kami berduapun mendekat gubuk panggung itu, meski jarak kami dan gadis lusuh yang terikat dengan rantai itu hanya dipisahkan oleh pagar yang hanya terdapat beberapa helai kawat berduri. "Ha..ha, hi..hi, hey.., siapa kalian, aku tidak takut sama siapa-siapa", ujar gadis itu. "Aku ini Abdullah anak Matang, anak Peusangan, jangan coba-coba dengan aku..!", kata gadis lusuh yang kerempengan itu sambil menumbuk-numbuk dadanya di hadapanku dan Jakir siang itu. "Gring-gring-gring", suara rantai pengikat kaki sang gadis gila itu, ketika ia meronta ronta membentak kami berulang kali. Kami begitu penasaran, karena gadis itu berulangkali mengatakan kalau dia bernama Abdullah anak peusangan sambil menumbuk-numbuk dadanya berulang kali. Wajar saja kata-katanya itu membuat kami penasaran, terutama tentang kata-katanya "aku ini Abdullah anak Peusangan" berhubung aku dan Jakir berasal dari Peusangan, dan juga Leman. Kamipun kembali lagi ke balai semula depan rumah Leman, untuk berupaya mengungkap dan mengorek keterangan Leman tentang misteri gadis gila yang terikat itu.
Setelah Leman keluar dari Toilet, kamipun kembali melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda beberapa saat. Aku dan Jakir mulai ingin mendapatkan keterangan tentang gadis gila itu.
"Siapa gadis itu", tanyaku pada Leman. "Namanya Nirmala, anak gadis satu-satunya Haji Rajadah yang dulunya pengusaha Udang terkenal disini", kata Leman pada kami. Aku kembali begitu penasaran mendengar nama Haji Rajadah ayah sang gadis gila yang disebut Leman tetangganya itu. Kemudian Leman menceritakan pada kami kalau haji Rajadah nama panggilan dari masyarakat, karena ia begitu sombong dan angkuh ketika jaya sebagai pengusaha Udang. Menurut Leman, Haji Rajadah pernah membeli dengan memborong kue pada suatu pagi di warung kopi. Semua kue-kue di rak diborong habis, kemudian orang di warung bertanya, "kenapa pagi ini pak Haji banyak sekali membeli kue",. "Kalian tau ngak !, di tambakku hari ini ada puluhan berang-berang (bubrang),". Sejenis nama binatang yang disamakan kepada pekerjanya dan orang-orang yang menangkap ikan maupun uadan sisa setelah panen. Mereka padahal orang-orang miskin, para janda dan anak yatim yang membantu menangkap sisa-sisa udang malah disebut berang-berang, cerita Leman pada kami. "Setelah itu, tahun depan, ditambak haji Rajadahlah pertama kali muncul penyakit udang", kata Leman. "Penyakit itu kini telah menjalar kesemua tambak, makanya masyarakat menyebutnya Haji Rajadah, karena ia terlalu sombong". Leman tidak sadar terus mengupat, sampai menceritakan masa lalu Haji Rajadah ketika masih muda. Sebelum ia bertaubat, naik haji dan menjadi pengusaha udang merupakan seorang mafia. Leman menceritakan cerita masyarakat di situ, ketika muda, Haji Rajadah menggeluti usaha haram sebagai penampung daging hewan curian, daging kerbau, lembu mati ketabrak, ia tampung untuk dipasarkan ke pasar-pasar kota Petro dolar dulunya. Masya Allah aku dan Jakirpun ikut berdosa mendengar upatan Leman tentang tetangganya itu.
"Lantas, bagai mana ceritanya tentang Nirmala..", tanyaku, seakan ingin memotong upatan Leman terhadap Haji Rajadah yang semakin menjadi-jadi. Kemudian Leman menjelaskan kalau Nirmala merupakan satu-satunya anak gadis haji Rajadah yang dulunya pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi di Peusangan, namun tidak selesai... (bersambung.... Episode Nirmala II, tetaplah bersama doc. Tuturkeunarang pada episode selanjutnya..!

Subscribe to receive free email updates: