Pesanggrahan merupakan istilah yang menyebutkan nama tempat berupa rumah berstuktur gedung, khususnya yang menjadi tempat tinggal para bangsawan, Kidemang, para Ampon atau hulu balang pada masa pemerintah Belanda dulunya. Gedung pesanggrahan ini didesain sangat istimewa baik dari segi bentuk maupun segenap perlengkapannya. Dilengkapi halaman dengan bunga-bunga langka nan cantik yang tak pernah ada pada rumah-rumah rakyat biasa kala itu. Juga tidak ketinggalan dengan desain kolam serta segala pernak-pernik tanaman hias yang membuat halaman indah dipandang mata.
Rumah dengan bentuk khusus tersebut sangat terlarang untuk dibangun oleh rayat biasa tanpa modal darah biru, walau sekaya apapun penduduk saat itu. Juga bunga-bunga dihalaman pesanggarahan ini, sangatlah dilarang untuk ditanam dan dikoleksi pada rumah-rumah penduduk biasa.
Pesanggrahan itu juga sebagai tempat peristirahatan orang-orang penting pada masa itu. Selain keluarga Ampon atau para Hulubalang, pesanggrahan juga sebagai tempat menerima tamu istimewa berupa petinggi-petinggi Ampon atau Demang dari daerah lain yang berkunjung. Juga kerap digunakan untuk menyambut petinggi kolonial, juga digunakan untuk kantor pemerintahan pada saat-saat tertentu.
Lalu bagaimana sehingga dalam budaya masyarakat Aceh istilah pesanggrahan ini sampai memunculkan istilah lain "pasanggereuhang" yang jauh beda arti dan tujuannya ?. Berdasarkan penelususan redaksi dari berbagai macam sumber tutur masa lalu, tentang kemunculan istilah Pasanggereuhang. Dulu ketika perang berkecamuk karena perlawanan rakyat banyak keluarga Ampon/demang yang terdesak, sehingga harus meninggalkan pesanggarahannya. Kerap kaputren atau pesanggrahan yang telah ditinggalkan para demang-demang itu diambil alih untuk diduduki petinggi-petinggi Marsose saat itu. Disaat-saat perang dahsyat pera petinggi-petinggi Belanda kerap dilanda perasaan galau dan stres. Untuk menghilangkan rasa ini, mereka sering membuat malam hiburan yang dipenuhi musik, dangsa, bahkan pesta pora yang diselingi minuman keras, juga ada Nona-noni cantik ikut melengkapi setiap pesta di pesanggrahan saat itu. Para wanita penghibur adalah para Noni (perempuan Belanda..red) dan ada juga nona (perempuan pribumi..red) yang sudah menggadaikan hargadiri bangsa pada mereka. Pesta goyang dumang itu berjalan semalam suntuk bagaikan kodok dimalam hujan yang tentunya diakhiri dengan hal-hal yang tak bisa diceritakan disini.
Pesta di pesanggrahan yang sangat bertentangan dengan norma-norma agama, adat dan budaya ini berlangsung aman karena penjagaan ketat dan dilakukan oleh pihak-pihak yang berkuasa. Pesta di pesanggrahan ini mengundang rakyat dan pejuang begitu gerah sehingga mereka menyebutkan perbuatan pesta itu dengan sebutan "Pasanggeurehang" yang artinya dilakukan berpasang-pasang terhadap perbuatan haram, berdansa-dansa, mabuk-mabukan dan pesta pora.
Maka sampai saat ini istilah "pasanggeureuhang" itu masih hidup dalam budaya bahasa masyarakat Aceh sebagai suatu istilah untuk menamai perbuatan pesta pora haram yang dilakukan berpasang-pasangan tanpa mempedulikan nilai-nilai agama.
Ketika ada acara semacam itu saat ini, orang Aceh sering bilang "bek kapeugeot pasanggereuhang sinoe" yang maksudnya (jangan bikin pasanggereuhang disini). Karena perbuatan pesta-pora yang dilakukan pada masa lalu di pesanggrahan telah mencitrakan sesuatu yang sangat negatif yang terpatri begitu dalam pada otak orang Aceh sehingga menyamakan semua pesta pora haram dengan istilah "Pasanggereuhang", sekian...!
Bagaimana komentar anda......?
Tetaplah bersama... Anda juga dapat mengunjungi....bersama koresponden redaksi Armia Arhan.

