RADIO GRAMOFON TOK AJI, RAKASYAH CERITAKAN TELEVISI

(Edisi Cerpen). Ketika radio Gramofon Tok Aji mendayu-dayu memecah keheningan malam, menyeruak kesunyian desa kami "Abeuk Sukon" limapuluh tahun yang lalu. Saat itu tak ada yang menyangka perkembangan teknologi seperti saat ini. Orang-orang di desa kami "Abeuk Sukon" begitu yakin kalau radio Gramofon yang dimiliki sesepuh desa kami Tok Aji merupakan puncak teknologi saat itu. Hanya Tok Aji yang mampu membelinya, meskipun harus menjual dua sampai tiga ekor kerbau untuk memiliki satu radio merek Gramofon itu. Tapi buatnya tidaklah menjadi suatu masalah, yang penting warga desa kami mendapatkan kebahagiaan tersendiri untuk memperoleh hiburan. Apalagi radio semacam itu satupun belum dimiliki oleh desa-desa tetangga kami yang lain saat itu. Jiwa seni Tok Aji memang tinggi, karena hampir tiap tahun ia mengadakan pagelaran seni tujuh hari-tujuh malam di alun-alun desa sana, terutama setelah masa panen. Tok Aji akan merasa bahagia mana kala orang-orang di desa kami bahagia dengan adanya pagelaran "piasan" yang ia pelopori itu.

Tiap malam rumah panggung Tok Aji tak pernah sepi dari banyaknya warga yang menikmati siaran radionya itu, sebagai satu-satunya teknologi yang menakjubkan bagi mereka.
Bludakan warga desa kami yang memenuhi rumah Tok Aji bagaikan anai-anai dan belalang-belalang malam yang mengitari lentera "Srungking" yang menerangi beranda rumahTok Aji melalui malam-malam ceria. Hanya untuk mendengar siaran berita, kadang suara P. Ramlee yang mendendangkan nyanyian-nyanyian negeri jiran, kadang sesekali mendengar siaran pertandingan sepak bola, tua muda terhanyut, bahkan ada anak-anak yang ketiduran di rimbunan pohon pisang sampai pagi diluar rumahnya. Malam-malam seperti itu terus berlalu seiring alunan lagu dendangan radio Gramofon yang mengusir keheningan malam.
---=oo0oo=---
Disuatu malam selepas magrib di balai desa, Peutua Mak Abah baru saja selesai mengimami shalat, magrib itu. Ia masih belum beranjak dengan meneruskan beberapa lantunan tasbih, zikir diiringi rasa khusyuknya.

Di pojok balai, Rakasyah, Mak Usen, Daka dan Apa Suh memulai perbicaraan, juga beberapa warga lainnya. Sudah menjadi kebiasaan warga desa kami, setelah salat magrib, menunggu Insya, sesudahnya menghabiskan malam dirumah Tok Aji untuk menikmati siara radio Gramofon.
"Tumben.. kamu Rakasyah, sudah tiga bulan tidak kelihatan", kata Apa Suh memulai pembicaraan."Selama tiga bulan saya di kota, Bang !", jawab Rakasyah. "Bagaimana perkembangan di kota sana", tanya Mak Usen, "kalau di kampung masih kayak dulu, paling-paling selesai Isya dengar Radio ke rumah Tok Aji", lanjut Mak Usen. "kalau dikota sudah ada televisi, saya lihat di sana di depan toko cina, banyak sekali orang yang menonton", cerita Rakasyah mengenai pengalamannya tentang televisi yang ia lihat di kota beberapa waktu yang lalu. "Bagaimana televisi itu..", selidik Apa Sen. "Ya,.. seperti radio juga, cuma ada gambarnya, kalau orang main bola di inggris langsung nampak dalam televisi, kalau orang nyanyi juga nampak orangnya, ada juga gajah berlari, kuda, pohon-pohon, semua bisa kita nonton lengkap dengan bunyi suaranya", jelas Rakasyah tentang televisi yang ia lihat di kota sana pada orang-orang di desa kami yang saat itu hanya baru mengenali radio Gramofon Tok Aji. "Lantas.. Ukurannya sebesar apa, sampai bisa kita melihat gajah di dalamnya", tanya Mak Usen penasaran. "Ya.. Sebesar radio Tok Aji juga, televisi itu", lanjut Rakasyah menjelaskan ukuran televisi.

Namun, Peutua Mak Abah yang sedari tadi begitu Khusyuk dalam lantunan zikirnya, ternyata ikut mendengar pembicaraan Rakasyah, Mak Usuh, Apa Sen, Daka dan beberapa orang lainnya di pojok balai. Sontak saja peutua Mak Abah naik darah atas cerita Rakasyah malam itu. Mukanya yang putih kuning berobah merah, telinga petua Mak Abah seakan capang kemerahan, disertai giginya yang gemertakan, petanda begitu emosinya terhadap cerita Rakasyah tentang televisi. "Apa kamu sudah gila Rakasyah, dua hari di kota, pulang ke kampung kamu cerita macam-macam di sini", berang petua Mak Abah yang tidak percaya tentang cerita Rakasyah mengenai televisi. "kalian juga yang dengar, gila semua.., mana mungkin televisi sebesar radio Tok Aji bisa kita liat gajah berlari-lari.. Saat ini orang main bola di inggris langsung bisa kita liat di televisi, sebesar apa lapangan bola, sebesar apa televisi, kalian pikir itu, rugi punya otak, kayak otak udang semua", bantah peutua Mak Abah yang menganggap cerita Rakasyah tak mampu diterima akal sehatnya saat itu. "Kalau kamu sudah gila, jangan membuat gila orang kampung, apa kamu sudah meneguk minuman keras selama dikota..., sehingga pembicaraanmu ngaur..!, disini masih banyak pohon "Beumbeung Itam Pucok" pohon untuk memasungmu jika kamu sudah gila Rakasyah...", bentak peutua Mak Abah bertubi-tubi terhadap cerita rakasyah tentang televisi yang tidak diterima akal sehatnya, karena selama ini baru mengenali radio Tok Aji.
Berangan demi bentakan terus saja keluar dari mulut peutua Mak Abah bagaikan petir malam itu. Daka, Apa Suh, Mak Usen dan beberapa warga lainnya yang sedari tadi begitu serius mendengar cerita Rakasyah tentang hebatnya televisi melebihi radio Gramofon Tok Aji, selanjutnya sudah tidak lagi mendengarkan Rakasyah. Malah mereka berbalik mendukung dan mendengar Argumen-argumen petua Mak Abah yang bagi mereka lebih rasional, sehingga Rakasyah termanggut dalam kesendirian yang selanjutnya pulang setelah panen cercaan dan merasa ceritanya tidak nyambung sama sekali malam itu.



Tidak hanya sampai disitu, ketika berada di warung Kopi, lagi-lagi peutua Mak Abah menceritakan kejadian di balai tadi magrib dan menuding Rakasyah sudah gila karena ceritanya tentang televisi. Orang-orang di desa kami "Abeuk Sukon" pun sependapat dengan peutua Mak Abah, kalau Rakasyah memang sudah benar-benar gila. Mereka semua memang sependapat dengan peutua Mak Abah, karena memang benar-benar belum pernah melihat televisi. Mereka hanya baru mendengar alunan-alunan radio Gramofon Tok Aji, yang mereka anggap sebagai puncak kejayaan teknologi. Namun Rakasyah, sosok pemuda cerdas, banyak pengalaman karena jauh perjalanan, ibarat air yang mengalir, hanya tenang dan diam saja ketika di tuding gila, karena menurutnya,.. Biarlah waktu yang menjawab dan membuka cakrawala kebodohan orang-orang di desa kami "Abeuk Sukon" nantinya..
---=oo0oo=--

Enam bulan kemudian, akhirnya televisi hitam putih yang diceritakan Rakasyah sudah ada di kota-kota kami. Suatu hari alangkah terpananya peutua Mak Abah pada hari itu, ketika ia melihat orang begitu banyak berkumpul di warung kopi pada hari pasaran. Ternyata orang-orang sedang menyaksikan pertandingan bola di televisi, kemudian ada orang menyanyi, kuda-kuda berlari. Petua Mak Abah merasa lemas seluruh tubuhnya, ototnya kaku, merasa begitu bersalah, bayang-bayangan cerita Rakasyah begitu menghantuinya, karena beberapa waktu lagi ia harus bersiap-siap karena warga Abeuk Sukon akan mencercanya gila sebagaimana ia mencerca Rakasyah enam bulan yang lalu....
(Memoriam of Radio Gramofon Tok Aji v.s cerita Rakasyah tentang televisi.

Subscribe to receive free email updates: