Tujuh bulan pula, lelaki itu tidak lagi menelusuri pematangan sawah Abeuk Sunteng untuk mencari pertemanan meditasi sosial di dunia lain. Semua orang tau, ketika petani-petani sawah di desa kami pulang menjelang magrib, namun Kisanteng baru pergi menelusuri jalan sawah setapak hingga hilang ditelan kegelapan malam di balik rerimbunan pohon-pohon rumbia.
Malam itu memang berbeda dari puluhan malam sebelumnya, selama Kisanteng terbujur kaku. Kondisinya yang semakin sekarat memaksa Waibah (Habibah) dan Wakadi (Kadimah), dua orang perempuan tua di desa kami yang tergolong dekat dan mengetaui rahasia kehidupan Kisanteng. Malam itu juga, raungan-raungan Kisanteng semakin keras, begitu memilukan ketika imum Brahim membacakan surah Yasin dan membisikkan kalimah-kalimah tauhid ditelinganya. Matanya merah melotot, lidahnya menjulur, meronta-ronta yang sebagian badannya sudah mulai membengkak diiringi bau yang tak sedap.
Memang Kisanteng sudah lama hidup sendirian, ditinggal mati istri dan anak yang telah merantau jauh ikut suami masing-masing. Hanya Wa Ibah dan Wa Kadi tergolong setia, apalagi setahun sekali ikut membantu hajatan Kisanteng menyembelih biri-biri jantan muda yang merupakan makanan ritual baginya. Daging biri-biri jantan muda yang masih "meudhok-dhok" disertai kepulan asap yang meujahoy-jahoy dalam periuk, disantap hangat-hangat saat masih setengah matang tanpa sedikitpun merasa kepanasan, kenang Wa Ibah saat menyaksikan kondisi Kisanteng yang sangat memilukan malam itu.
Hal yang sama juga di rasakan Wa Kadi, teringat ketika setahun sekali, saat Kisanteng menyantap lahap daging biri-biri setengah matang sampai ia kenyang saat daging-daging itu sudah mulai masak. Sisa-sisa daging yang masak itulah yang biasanya menjadi jatah mereka berdua untuk dibawa pulang kerumah masing-masing, kenang Wa Kadi tentang jejak rekam lelaki yang sekarat dihadapannya.
Kembali memori Wa Ibah dan Wa Kadi tentang ritual tahunan Kisanteng tersentak dengan raungan-raungan laki-laki tua itu yang semakin memilukan saat Imum Brahim mengkhatamkan beberapa Mubin surah Yasin malam itu. "Ya.. Allah..! Berikan husnulkhatimah untuk hamba mu ini..",Ujar Imum Brahim mengakhiri bacaan yasin dimalam ketiganya."Sebaiknya besok Imum panggil saja Utoh Din", saran Wa Ibah untuk memanggil ahli rukyah golongan putih di sebrang kampung kami. "Ini pasti ada hubungannya dengan..anu..nya !.", ujar Wakadi yang rada-rada panik menyaksikan dihadapannya seakan nyawa Kisanteng tak mau keluar dari jasadnya.
Malam itu terus beranjak larut, lelaki tua itu semakin sekarat sepanjang malam, mulutnya meracau tak jelas, lidah menjulur-julur, menghentak kaku kiri kanan yang membuat bilih rumah tua bergoncang, meskipun sebagian jasadnya sudah mulai membengkak.
--=oo0oo=--
Keesokan harinya rumah tua di sudut desa kami itu, telah dipenuhi oleh begitu banyak orang-orang kampung dan warga desa sebrang. Mereka seakan saling berdesak rapat, menggelantung diluar bilik rumah Kisanteng yang telah begitu rapuh. Suara erangan dan jeritan yang keras memilukan telah mengundang orang-orang desa kami satu persatu menyaksikan kisah pilu itu. Mereka berebut mengintip melalui celah-celah dinding kayu yang sesekali robek melebar, karena memang sudah begitu rapuh. Erangan-erangan laki-laki tua itu semakin kuat seakan suara itu tidak diterima bumi, ketika Imum Brahim yang berduet dengan Utoh Din dengan komat kamit membaca rukayah mengusir syetan dalam jasad Kisanteng. Akhirnya suara-suara itu semakin melemah, di sertai tubuh Kisanteng yang telah lunglai kaku dingin yang telah sebagian membengkak mengeluarkan bau tak sedap.
Beberapa anak-anak Kisanteng yang baru sampai dari tempat mereka masing-masing, hanya tertunduk lesu dipinggir jasad ayah mereka, yang menurut Utoh Din telah meninggal beberapa hari yang lalu. Hanya Syeitanlah yang telah menyesatkan lelaki tua itu sehingga tidak tau jalan kembali menuju ilahi.
Keramaian di rumah tua, sore itu bersambung dengan pelaksanaan fardhu kifayah untuk mengantarkan lelaki tua itu ke tempat peristirahatannya terahir. Namun ceritanya tidak hanya sampai disitu.. Meskipun jasad Kisanteng telah terkubur, namun bayang-bayangannya terus menghantui warga Abeuk Sunteng di malam-malam selanjutnya. Kadang bayangannya terlihat warga, pulang kerumahtua itu, kadang kepergok di simpang jalan, yang membuat desa kami seakan mati saat itu. Namun kemudian bayang-bayang itu menghilang pelan seiring terangnya cahaya listrik dan gema kalam ilahi melalui teknologi##
Memoriam of Abeuk Sunteng, diangkat dari kisah nyata era tahun 1960, namun tempat dan nama-nama sebanarnya telah redaksi samarkan. By Redaksiana @TUTUR KEUNARANG Dan dapat juga anda kunjungi di http://tuturkeunarang.blogspot.co.id/?m=1 bersama koresponden redaksi Armia Arhan
