MENYIBAK MISTERI "GLE MONG-MONG" DAN JEJAK "KULAM PUTROE" DALAM MITOLOGI MASYARAKAT PEUSANGAN...


(Bireuen..26-02-2017). Tim redaksi Tutur Minggu (26/2) menelusuri desa-desa dikaki sebuah bukit yang sangat fenomenal yang berada di daerah Peusangan selatan. Bukit "Gle Mong-mong", itulah tujuan kami untuk mengungkap tabir yang berkaitan dengan riwayat tutur yang berkembang dalam masyarakat. Kisah fenomenal tentang bukit "Gle Mong-mong" mengingatkan kami ketika masih kanak-kanak dulu. Bukit itu seakan menjadi moster bagi kami, para anak-anak dulu terutama yang banyak kutu. Kata nenek dan orang-orang tua, ketika kami waktu masih anak-anak dulu yang malas membersihkan kutu di kepala. "Jika kutu-kutu semakin banyak sampai memenuhi kepala, akan diterbangkan oleh kutu-kutu itu ke bukit "Gle Mong-mong" tersebut. Tidak hanya sampai disitu, "kalau anak-anak sempat diterbangkan oleh kutu ke puncak bukit itu, kutu akan memasukkan mangsa anak yang diterbangkan kedalam "Beulangong busoe" (periuk besi..red) kata nenek pada kami dulu. Nasehat itu sangat efektif kala itu sehingga anak-anak rajin membersihkan kutunya. Perkembangan mitologi hoax klasik itu kini pudar sudah, seiring meningkatnya kecerdasan anak dewasa ini, dan semakin sedikit anak-anak yang masih berkutu, tidak seperti jaman kami dulu.
Setelah Tim kami menjepretkan kamera untuk mengambil foto Gle Mong-mong, kamipun berupaya menggali penuturan-penuturan dengan warga setempat tentang mitologi bukit tersebut. Dari informasi yang kami peroleh, bukit itu telah lama terobsesi dalam karya tutur era klasik yang telah mampu membangun imajinasi karya sastra lama khususnya yang tertuang dalam hikayat Malem Diwa. Sungguh luar biasa, karya hikayat Malem Diwa yang menaklukkan putri Bungsu dengan seruling saktinya setebal lebih dari 300 halaman itu begitu hidup dalam mitologi masyarakat Peusangan dan Aceh pada umumnya kala itu. Tak terlepas dari keberadaan "Gle Mong-mong" sebagai latar yang menceritakan dipuncaknya terdapat "Kulam Putroe" (telaga putri..red) sebagai tempat Malem berhasil membuat putri bungsu bertekuk lutut, setelah malem berhasil meneyembunyikan selendang baju terbangnya. Keberhasilan Malem Dewa dengan cara licik itu telah membuat Putroe Bungsu terjebak dalam kemelut prahara cinta bersama Malem, karena terpaksa ditinggal saudara-saudaranya yang terbang pulang ke negeri kayangan Antara sana.
Kisah hikayat klasik ini, telah mengimajinasikan banyak orang tempo dulu, entah siapa seniman yang telah mampu menghipnotis melalui alam khayal yang menyertakan "Gle Mong mong" dan "Kulam putroe" didalamnya hingga menembus batas alam prakmatis berpikir manusia saat itu. Seniman legendaris yang tak terkenal itu, mungkin saja mengarang hikayat sambil "Dom pade" (menjaga padi..red), atau orang-orang yang memang tidak punya pekerjaan yang berjiwa seni kala itu.
Terlepas dari semua itu, kawasan Gle Mong-mong yang ada di Peusangan selatan Bireuen, di daerahnya telah mengorbit banyak seniman, baik seniman tutur, sandiwara Geulanggan Labu era 1970-an dan para penyanyi handal yang terkenal. Tokoh seniman seangkatan Ali abu nek, Ma Ruhoy, Abdullah Lapanploh, Abdullah Banson sampai kepada penyanyi Aceh era 1990-an Doles Marsael yang juga lahir didesa Uteun Raya dibawah kaki Gle Mong-mong itu.
Meskipun semua hikayat Malem Dewa kini telah terkubur oleh perkembangan zaman, namun ikon "Gle Mong-mong" Masih berdiri tegak dikawasan Peusangan Selatan. Disamping itu pula, berdasarkan penuturan masyarakat setempat, kini Kulam Putroe yang berada di sebelah utara puncak bukit tersebut sudak tidak ada air dan kotor tak terawat. Hal ini mungkin saja karena dewasa ini tidak ada lagi para "Putroe-Putroe" dari kayangan sana yang singgah dengan baju terbang untuk mandi di kulam itu seperti dialam khayal dulunya.
Tim redaksi Tutur begitu lelah hari ini setelah mengitari beberapa desa, seperti Uteun Gathom, Me Rayeok, Mata ie dan Uteun Raya untuk menelusuri jejak mitologi Gle Mong-mong hari ini.
By redaksiana @TUTUR KEUNARANG bersama koresponden Ali Raban dan Armia Arhan melaporkan dari Peusangan Selatan Bireuen.
Sawah dikaki bukit gle mong mong

Jejak putro bungsu

Subscribe to receive free email updates: