JALAN ALTERNATIF UTARA SUDAH MENUNGGU PELINTAS, WARGA TINGKEUM BARO RESAH

(Bireuen, 12-02-2017) Sehubungan akan ditutupnya jembatan Tutue Tingkeum Kutablang tgl 18 Febuari 2017 ini, maka pelintas dari Banda Aceh menuju Medan juga akan dialihkan kejalur alternatif sebelah utara. Redaksi Tutur berusaha meliput kelokasi untuk mengetahui sejauhmana kesiapan jalur dimaksud. Sepanjang jalur alternatif yang redaksi telusuri umumnya telah siap dilakukan pengerasan sepanjang 8 km meliputi desa Tingkeum baro, Pulo Reudeup, Geulanggang Minje, Rancong sebelah barat sungai yang terhubung dengan jembatan rangka baja Rancong. Sedangkan sebelah timur meliputi ruas Samuti, Pulo Nga, Cot Me, dan Tingkeum Manyang. Jalan yang memutar sisi sungai Krueng Tingkeum (muara DAS Peusangan..red) umumnya sudah selesai dilakukan pengerasan, meskipun ada beberapa titik yang masih berpotensi becek bila hujan. Jalur yang masuk sebelah barat Jembatan Tingkeum dan keluar kembali sebelah timur jembatan Tingkeum Kutablang kembali, membuat perjalanan bertambah panjang dan jauh lebih dari 8 Km dan membutuhkan waktu tempuh 25 menit dengan ukuran kecepatan 20 Km/jam.

Warga Tingkeum Baro resah..!
Semenjak dimuatnya kepastian akan ditutup cecara Total jembatan Tutue Tingkeum Kutablang pada tanggal 18 Febuari ini untuk proses pembongkaran dan pembangunan kembali jembatan itu (Harian Serambi Indonesia edisi 12/2/2017). Warga Tingkeum Baro, Pulo Reudeup, Kulu, Blang Panjoe yang berada di sebelah barat jembatan Tingkeum Kutablang resah. Keresahan warga yang berdomisili di sebelah barat jembatan yang amblas itu, menyangkut terputusnya akses mereka untuk berbelanja ke kota "rujak manis" Kutablang yang harus menempuh rute yang sangat jauh. "yang kasihan para anak sekolah" kata Aldi, warga setempat yang redaksi wawancarai kemaren siang. "Anak sekolah disini umumnya pergi kesejumlah sekolah yang ada di Kutablang baik SMP, SMA, MAN dan sebaginya, juga guru-guru, mereka beberapa hari lagi harus menempuh rute yang sangat jauh, padahal sekolah hanya 1 km terpaut dari sini, seperti bersandiwara saja" jelas Aldi sambil tertawa. Hal senada juga dituturkan Bu Ana "Kalau saya tugasnya di sekolah Gandapura sana, capek deh !". Ujarnya, seraya menambahkan "Semoga ada investor yang mau membuat Ketel/rakit penyebrangan, karena waktu setahun itu tidaklah singkat" Harap Bu Ana. Itulah harapan beberapa warga yang berdomisili sebelah barat jembatan Kutablang yang akan dibongkar itu. Mereka sangat berharap adanya investor untuk membuat Ketek rakit penyebrangan, demi memperlancar anak-anak sekolahan. Hal ini tentu saja butuh dukungan semua pihak termasuk dinas perhubungan, dinas Pendidikan untuk mencari solusinya.      
Redaksi tuturkeunarang.blogspot.com melaporkan hasil penuturan warga, melalui "alam bawahsadar" semoga bermanfaat bagi admin sekalian.

Jalan Alternatif Utara

Subscribe to receive free email updates: