JEMBATAN TUTUE PANTE LHONG LEPASKAN KERINDUAN, DIBALIK KISAH LAIN TENTANG "BEN LATEH"

(Bireuen, 07-02-2017) Kini hasrat jembatan Tutue Pante Lhong yang sekian lama memendam rindu untuk dilintasi berbagai kenderaan mobil mewah, milik pejabat, mobil orang-orang kaya, pengusaha dengan berbagai merek dan ukuran tercapai sudah. Terlepas semua mobil-mobil itu dibeli dengan cara-cara halal maupun tidak. Kerinduan jembatan Tutue Pante Lhong sudah terpendam sekian lama, semenjak jembatan itu dibangun thn 1997 oleh pengusaha Haji Saifannur atau yang lebih dikenal dengan Keuchik Fan, yang kini sebagai salah satu Cabub di kabupaten Bireuen itu. Semenjak diresmikan pada thn 1998 di masa bupati Aceh Utara Karimuddin Hasballah sebelum lahirnya kabupaten Bireuen, jembatan itu hanya dilintasi oleh mobil-mobil pelintas lokal saja, paling-paling truk pasir, truk pengangkut sawit, interkuler pengangkut alat berat milik Keuchiek Fan sendiri, yang katanya punya proyek diatas sana. Jadi sangat wajarlah jembatan itu memendam kecemburuan pada saudaranya jembatan Tingkeuem yang selalu dilintasi mobil-mobil mewah yang hanya kedengaran suara "pep-poop" yang sayup-sayup memecah keheningan malam jauh di Kutablang sana.

Ternyata kini Tuhan telah mengabulkan hasratnya itu, berawal dari petaka jum'at malam 20 Januari diawal 2017 kemarin. Malam itu berawal dari gemuruh reduk laut utara sana, yang bagaikan bersambut gayung disahuti gemuruh reduk gunung yang membuncah sepanjang malam. Ternyata digunung sana, hujan deras seakan menenggelamkan bumi, petir seakan murka atas keserakahan manusia yang selama ini telah menjamahnya dengan serakah. Meskipun di utara pesisir kota, tak ada angin dan hujan, ternyata air bah Krueng Peusangan datang begitu kuat, menyeret balok-balok liar sebagai bukti keserakahan manusia terhadap alam selama ini. Petaka malam itu telah menjebol pintu air Teupin Mane Juli Bireuen, menghantam jembatan Ulee Jalan Darul Aman Peusangan Selatan, dan yang terakhir mengamblaskan Tutue Tingkeum Kutablang hingga miring. Suara "kereukham-keureukhum, kram-krum" membuat warga tingkeum terhentak dari tidurnya yang akhirnya mendapati Jembatan Tingkeum sudah amblas. Balok-balok yang hanyut telah menghantam tiang penyangga tengahnya, hingga sebagiannya copot. 
Keesokan harinya, senterlah diwarung-warung kopi tentang kejadian semalam dan di jembatan Tingkeum Kutablang orang berduyun-duyun menyaksikan kerusakan jembatan itu bagaikan menonton piasan. Yang aneh dikampung-kampung, diwarung kopi malah beredar cereta lain yang berbau mistik tentang "Ben Lateh" yang telah turun dari gunung bersama air bah malam itu mematahkan beberapa jembatan. Bagi masyarakat awam lebih tertarik menganalogika bencana air bah itu dengan hal-hal mistik ala primitif, yang mempercayai "Ben Lateh" turun dari pertapaan digunung sana hingga mematahkan beberapa jembatan di aliran DAS Peusangan. Cerita tentang "Ben Lateh" versi orang awam semakin hangat dakwa-dakwi dengan orang yang lebih berwawasan yang memandang bencana itu akibat kerusakan alam karena olah tangan manusia. Mungkinkah sosok "Ben Lateh" hanya dijadikan kambing hitam semata, agar manusia lepas diri dari keserakahannya terhadap alam selama ini.

Siapa sosok "Ben Lateh" ?
Mendengar cerita-cerita buayan itu, redaksi Tutur semakin penasaran saja, sehingga mengoreksi lebih dalam orang-orang awam yang bertekak diwarung kopi itu. Ternyata sosok "Ben Lateh" yang mereka yakini itu berbagai macam versi. Ada yang meyakini Ben Lateh berupa Naga yang telah bertapa dalam tanah bertahun-tahun yang hanyut bersama air bah menuju laut dan mematahkan jembatan. Sebagian yang lain berpendapat Ben Lateh itu berupa fosil kayu "Tungo Itam" yang sudah ber-Jin yang terkubur dalam tanah yang ikut hanyut dan mengamuk sehingga menabrak jembatan. Itulah beberapa pemikiran-pemikiran primitif yang redaksi Tutur dapatkan dari orang-orang awam dalam masyarakat kita. Mereka seakan buta, tentang kerusakan alam sehingga menyebabkan bencana. Terlepas dari "Ben Lateh" atau Ben Suren, maupun Ben Joh atawa Boh Jen, mari kita tinggalkan buayan-buayan primitif dan membuka mata untuk lebih mencintai alam sebagai sunnatullah kehidupan.
Semoga hadirnya redaksi tuturkeunarang.blogspot.co.id, memberi warna tersendiri bagi admin sekalian.

Jembatan Pante Lhong


Subscribe to receive free email updates: